Rabu, 29 Mei 2019

Tentang Perempuan

Tulisan ini adalah sebuah kisah ku bersama pengalaman orang lain yang membuat ku belajar tanpa harus mengalaminya.

Dulu aku punya teman, bukan teman dekat lebih tepatnya hanya teman dari temanku. Dulu aku bukan tipe orang yang setia dalam berteman atau bisa dibilang aku tak pernah punya teman dekat. Mengapa? Aku juga tidak tau. Aku lebih suka berteman sekedarnya, tak terlalu sakit mungkin jika aku dikecewakan teman. Tapi teman sepeti itu mungkin hanya bisa sekedar bertegur sapa tanpa bisa berbagi kisah panjang lebar.

Suatu ketika aku mulai berteman cukup baik dengannya, lebih tepatnya ketika aku tahun terakhir sekolah menengah. Saat itu pula aku mulai memiliki teman yang dapat ku bagi kisah dengannya. Kami sering berkumpul untuk belajar menjelang ujian akhir sekolah.

Setelah mengalami berbagai fase pertemanan aku merasa dia masih baik baik saja selama ini. Tapi anehnya teman lainnya yang lebih dulu dekat dengannya tak berkata begitu. Aku juga tak terlalu mengerti apa maksudnya.

Hingga aku pun mengerti apa maksud mereka. 
Semasa sekolah menengah aneh rasanya bila tak pernah menyukai seorang lawan jenis, begitu pula dengan ku. Aku bukan orang yang biasa diam jika sesuatu terjadi padaku. Aku bercerita tentang hal itu pada temanku ini, dan beberapa hari kemudian orang yang aku suka lebih dekat dengan temanku. Aku merasa terlalu kekanak-kanakan bila mengingat masa itu, mengingat aku adalah anggota rohis dan malah mempermasalahkan hal yang tak pantas sebagai sebagai anggota rohis.

Masalah menjadi. Perpecahan tak dapat dihindarkan. Aku menjauh dari temanku itu. Patutlah orang lain berkata demikian. Sekarang aku tau maksudnya.
Aku tak mau tau kelanjutannya. Mungkin dia bahagia mungkin juga tidak. Dan kabar terakhir yang aku dengar adalah mereka putus. Bahagia tidak, sedih pun tidak. Aku merasa biasa saja.

Kami berteman kembali karena mungkin lingkungan yang memaksa atau mungkin memang takdir nya begitu.

Aku tak pernah mau bercerita masalah lawan jenis padanya lagi.

Saat itu entah sedang gencar atau memang dia tulus kalakuan nya, dia berhijrah. Sampai sekarang dia masih beristiqomah mengenakan kerudung syar'i nya. Alhamdulillah ucapku, dia sangat tegar menghadapi berbagai cobaan ketika dia berhijrah.

Sampai di awal masa perkuliahan aku mendengar berbagai ceritanya bersama banyak lawan jenis yang pernah memberinya harapan. Aku mengiyakan saja. Semenjak dia hijrah mungkin dia memang tak menganggap sebuah hubungan sebagai permainan lagi. Dia selalu menganggap serius semuanya sampai mungkin sakit hatinya pun juga serius. Beberapa laki laki pernah mengecewakan nya. Aku kira hal itu harusnya tak terjadi padanya, mengingat dia adalah wanita yang sangat baik dalam berpakaian dan berhubungan. Tapi ternyata kenyataan nya tak seperti itu.

Baru baru ini dia dekat dengan seorang laki laki dan mungkin berharap berjodoh, aku tak tau takdir akan berkata seperti apa tapi dia tetap menganggap nya serius meski sebenarnya aku telah tau bahwa laki laki itu mempunyai wanita lain. Tapi aku tak berani mengungkapkan nya karena aku takut mengecewakan, sampai akhirnya dia mengetahui itu semua sendirinya. Dia bercerita padaku, mengungkapkan kekecewaannya tapi disisi lain ternyata dia masih berharap. Aku tak tau apa yang membuatnya berharap sekuat itu. Aku tak akan pernah bertahan jika aku jadi dia.

Aku kira keseriusan hubungan mereka hanya sebatas hubungan jarak jauh. Tapi ternyata saling mengunjungi rumah adalah hal yang biasa bagi mereka, bahkan kagetnya aku ketika melihat foto mereka saling memeluk. Apa yang ada di pikiranmu sekarang? Mengapa bisa seperti itu?

Aku tak menyalahkan orangnya, itu mungkin bukan salahnya, tapi aku mencoba belajar dari hal yang terjadi padanya. Ternyata benar semua manusia tidak pernah sempurna. Aku selalu iri dengan caranya memakai pakaian. Tapi ternyata pakaian tak menjamin akhlak. Bisa jadi aku lebih beruntung karena menjomblo dan terhindar dari segala hal buruk mengenai laki laki. Tapi mungkin pakaian dan mulutku belum bisa ku jaga dengan baik. Bahkan jari ku ini masih belum bisa terkendali ketika mengomentari orang yang berlaku salah. Aku memang salah, tapi mungkin tak ada salahnya untuk belajar dari kesalahan orang lain.

Perempuan tetaplah perempuan, selalu ingin disayang dan diperlakukan lemah lembut. Bukan tidak boleh, namun jika belum waktunya jangan dipaksakan. Suatu saat pasti akan tiba waktunya. Masalah hati memang akan selalu datang, itu adalah ujian bagaimana kita bisa menguatkan hati untuk tidak terjerumus ke dalam jebakan syetan.

Bukan berarti aku sudah baik, terkadang aku juga masih berlebihan ketika berhubungan dengan teman laki laki.

Mari lihat ke dalam diri, apa yang lebih baik dilakukan untuk melindungi diri kita. Karena ternyata orang tak pernah kita sangka ketika ia sudah tak dapat mengendalikan nafsunya, maka terjerumus lah ia. Tak memandang syar'i tidak pakaian nya, tak memandang seberapa tinggi sekolahnya, tak memandang seberapa banyak ilmunya. Nafsu adalah pengendalian hati dan jiwa.

Jadilah perempuan yang menjaga hatinya, yang menjaga jiwa dan pikiran nya dari hal hal kotor. Sehingga kelak menjadi segelas air putih yang meredakan dahaga setelah berpuasa.

Selasa, 28 Mei 2019

Sesuatu dalam hari ku

Have you ever feel like "this is the bad day i ever had"

Ya,, biasanya saat itu adalah ketika hal buruk terjadi dalam hidup kita. Entah itu hanya menyangkut pribadi atau orang banyak.
Aku yakin banyak diantara kita pernah merasa takut untuk melewati sebuah hari, dan rasanya ingin sekali hari itu tak pernah ada dan tiba-tiba kita sudah ada di hari berikutnya. Mungkin semacam tak ingin melakukan hal yang harusnya dilakukan hari itu. 



Hal itu terjadi berkali-kali padaku. Hari ini, kemari, minggu lalu, bulan lalu, bahkan tahun lalu aku selalu merasakan hal yang sama. 

Aku selalu bilang kalo aku bakal ga bisa lewatkan hari itu karena aku terlalu takut, kemudian aku malah membayangkan berbagai hal yang sekiranya bisa ku lakukan untuk menghindari hari itu. Dan sampai sekarang aku masih melakukannya. Aku masih sering berhayal dan membayangkan semua kemungkinan yang bisa aku lakukan agar aku terhindar dari masalah. 
Itu jelek, itu amat jelek. Ya.. itu tak akan pernah membuatmu dewasa, sampai kapanpun. 



Aku kira hal ini malah akan membuat ku terjebak masalah yang lebih besar. Aku bahkan tetap melakukannya meskipun aku tau resiko nya. Disanalah ego ku berbicara. Ia tak mau diam saja dengan keharusan. Ia lebih memilih menjaga diri dalam persembunyian.

Ini masalah besar ternyata.



Tapi dari semua hal di atas, pernah ga satu hari saja dalam hidup tidak bisa dilewati atau bahkan tidak terlewati?

Yes of course. Jawabannya tidak ada.
Ternyata selama kita hidup sampai saat ini, kita telah bisa melewati banyak hari yang menurut kita itu adalah hari terburuk dalam hidup kita. 
Kamu tau kenapa itu bisa terjadi?
Satu jawaban pasti, Allah tidak akan pernah memberi ujian kepada hambanya kecuali ia mampu.



Ya.. sebenarnya kita selalu mampu melewati setiap hari walaupun itu buruk menurut kita karena Allah yang mengizinkan kita untuk melewatinya.

Ketika percaya bahwa Allah akan selalu memberi kejutan indah kepada hambaNya, disitulah kepercayaan diri muncul dan membuat kita percaya bahwa diri kita selalu mampu melewati hari hari dalam hidup kita, meskipun itu buruk menurut kita tapi Allah selalu tau yang terbaik. Pertolongan Allah akan selalu datang saat kita meminta dan memohon kepadaNya.



Hidup itu ternyata simpel, just do what Allah command to you, and don't do what Allah porbide to you.

And ones again, you just yourself.



Thank you for reading, semoga bermanfaat.

See you in my next blog.

Being an admirer is weird

Pernahkah tepikir sebenarnya apa sih yang harus dilakukan saat menyadari kalo kita sedang menyukai seseorang? apa aturannya? apa yang boleh ...