bisa dibilang kami terlambat memulai persiapan, karena kami terlalu fokus menikmati masa masa bermain kami. disaat kami masih memikirkan spot terbaik untuk liburan, teman yang lain sudah berburu gedung untuk pesta. ini sangat mendadak disadari. dari situlah kami mulai sadar dan serius dengan hal ini.
ada satu buku yang sangat membuka pikiranku tentang persiapan menikah. judulnya 'selesai dengan diri sendiri'. awalnya kubeli buku ini bukan karena buku ini membahas pernikahan melainkan karena buku ini membahas mengenai karir menulis. mengenai bagaimana menerima kehidupan dan takdir. itu yang membuatku tertarik untuk membacaya. namun tanpa disarari ternyata akhir buku ini merujuk pada satu hal yang sedang aku dalami saat ini.
saat ini aku masih belum menyelesaikan bukunya untuk satu bab terakhir. agak berat rasanya.
sampai lah aku pada kesimpulan bahwa bab akhir ini tak sanggup aku buka karena kau belum menerima diriku seutuhnya, aku belum selesai dengan diriku. dan itu juga yang rasanya akan menjauhkan ku dari pernikahan. bukannya semakin siap menikah, aku malah semakin tidak siap setelah mengetahui banyak hal, setelah merenungkan banyak hal yang kiranya akan terjadi setelah menikah.
masalah terbesar yang aku alami saat ini adalah enggannya aku membawa orang lain pada kehidupanku dan seluruh masalah yang ada didalamnya. aku belum berpikir tentang pasangan, dalam jangkauan pertemanan pun aku lebih memilih untuk berbohong tentang kondisiku dibanding harus jujur dengan masalah yang kuhadapi.
bukannya tak mau bercerita, aku sempat bercerita pada temanku, penerimaan mereka bagus, saran mereka bagus, tapi rasanya tetap aneh. aku tetapp merasa terpuruk dengan keadaanku sehingga berpikir bahwa bercerita tak mengurangi bebanku.
dan dalam perjalanan menuju selesai ini aku ingin tau apakah aku bisa benar benar bisa mencapai kata selesai?
.jpg)