Senin, 27 April 2020

Hari Ini Hujan


Hari ini hujan. Tengah hari. Aku sudah sangat malas berdebat dengan keadaan hari ini. Tubuh ku tak merespon semua hal yang sudah aku rencanakan. Dia punya mau sendiri. Maunya melakukan hal yang membuat nya senang. Jadi kuputuskan untuk mengikuti maunya. Akhirnya aku menulis. Disbanding bergelut dengan tugas kuliah dan semua hal tentang kuliah, aku lebih suka melukis, membuat doodle, menulis, membaca, dan mendedikasikan semua rasa yang ada di hatiku pada sebuah karya. Aku sangat senang melakukannya, hingga seringkali aku lupa waktu karenanya. Tapi aku tetap senang. Mereka bagian dari kebahagiaanku.

Aku selalu bertanya pada diri, kenapa aku diberi izin untuk kuliah di jurusan ini? Padahal walau tak secara keseluruhan, aku relatif tak terlalu suka dengan belajarnya. Sepertinya aku lebih menyukai jika berada di jurusan seni atau sastra. Tapi keduanya bukan jalur lulusan mipa seperti aku. Aku memang sangat menyukai matematika. Dan apapun yang punya unsure matematika aku suka. Terus kenapa aku tak masuk jurusan matematika? Pikiranku cukup dangkal soal itu. dulu sebelum kuliah,aku tentu sangat berpikir tentang bagaimana mendapatkan pekerjaan selepas kuliah, dan pekerjaan yang menjanjikan ada di jurusan yang aku tekuni sekarang. Walau bukan anak yang tekun saat di dunia kuliah, aku terbantu dengan keberadaan teman teman yang selalu memotivasiku walau mereka juga sama malasnya seperti aku.

Ini bukan masalah keinginan, ini bukan masalah takdir, tapi ini semua masalah percaya. Ternyata aku tak perlu egois dengan memaksakan keinginanku, ternyata aku juga tak perlu hidup pasrah saja dengan takdir, karena kenyataannya aku tak selalu mendapatkan yang aku inginkan walaupun banyak usaha, dan aku juga tak akan dapat apa apa jika tak mau berusaha, walau Tuhan sudah menakdirkannya untukku. Tentu saja Tuhan juga akan melihat usahaku, seberapa mau aku mendapatkan takdir itu, hingga Ia memberikan balasan sesuai porsinya. Ternyata dalam kehidupan, aku hanya butuh percaya pada rencana Tuhan. Percaya pada setiap langkah yang telah Ia gariskan tanpa berhenti melangkah. Jika aku berhenti berjalan, maka aku tak akan pernah sampai ke tujuan. Begitu pun ketika berjalan, tetap perhatikan arahan yang sudah Tuhan berikan. Karena jika aku berjalan cepat tanpa melihat garis Tuhan, aku tetap takk akan sampai tujuan, dan kalopun sampai pasti lebih cape, pasti lebih sulit, dan pasti dirasa lebih lama.

Porsi manusia percaya kepada Tuhan sangat sulit didapat ketika ia baik baik saja, maka biasanya Tuhan berikan ujian supaya manusia mau bertanya kepada Tuhan tentang garis mana yang telah Tuhan buat untuknnya. Dan semakin banyaknya manusia bertanya kepada Tuhan, maka rasa percaya manusia kana meningkat. Dan hubungan dengan Tuhan akan membaik.

Aku bukannya tak mau bahagia, aku hanya tak mau terlalu bahagia dan melupakan keppercayaanku pada Tuhan. Seharusnya manusia tetap bisa menangis walau sedang merasa bahagia. Ingatlah, Tuhan yang sudah member kebahagiaan, maka ingatlah Dia, berterimakasihlah padaNya. Dan jangan pernah lupa untuk selalu percaya padaNya.

Senin, 20 April 2020

Setahun Tak Bersua


Tepat satu tahun lalu, aku telah memutuskan memberanikan diri untuk mempertanyakan kepastianmu. Mungkin serasa terlalu cepat, namun bagiku yang telah menunggu selama 7 tahun ini semua terasa lama. Butuh waktu yang lama ternyata untuk akhirnya sampai pada saat aku bisa bertanya kabarmu tanpa alasan. Tahapan demi tahapan telah aku lalui hingga aku merasa pantas menanyakan kepastian itu.

Tapi ternyata saat itu juga belum tepat. Tahapan yang harus aku lalui ternyata memang belum selesai. Aku tak akan anggap semua yang telah terjadi sebagai kekecewaan ataupun penyesalan. Aku hanya ingin terus bersabar dengan tetap setia melewati semua yang Allah rencanakan. Bagaimanapun, seperti apapun jalannya, aku tetap ingin bersabar dan terus melalui ini semua. Walau aku sempat mengeluh kesakitan, aku tak akan peduli lagi. Bukan karena aku ingin tersakiti, namun sepertinya saat itu aku masih butuh pelajaran hidup yang membuatku bisa mengerti dengan keadaan bahwa semua ini belum selesai, semua ini belum berakhir. Aku masih ingin berjuang dengan kesabaranku.

Jika kau tanya mengapa kau orangnya, aku pun telah menanyakan hal yang sama berulang kali. Aku telah melewati rasa ini sangat lama, aku sadar sejak awal aku memang hanya menyukaimu, tak pernah lebih. Tapi seiring hari berlalu, rasa sayang mulai tumbuh, meskipun kau tak  pernah menyapaku, tak pernah sampaikan ucapmu, begitu pula diriku, hanya dapat membisu melihatmu dari kejauhan. Tapi rasa itu tak pernah berhenti tumbuh. Meskipun kerap kali aku tersadarkan dengan kenyataan yang selalu membuat dadaku sesak, rasa ini terus tumbuh, percaya ini tak berhenti. Aku tak ingin salah sangka lagi, hingga mencoba segala hal untuk menghilangkan rasa itu. namun setelah berkali-kali mencoba berhenti, itu tak pernah berhasil. Dan saat ini aku malah semakin yakin dengan rasa ini. Aku tak akan mencegahnya lagi. Aku akan biarkan saja rasa ini tubuh. Aku sangat percaya kau memang takdirku.

Jikalau ternyata takdir harus memisahkan kita, aku tetap akan melanjutkan sabarku.  Merayu Sang Pemilik Hati sebisaku. Karena aku tak mau menyesal.

Minggu, 12 April 2020

Kebahagiaan


Payung bumi semakin tebal dan semakin pekat. Wajahnya menyiratkan sebuah kesedihan tak terbendung. Air kemudia berjatuhan tanda sang langit bersedih. Apakah langit hanya bias bersedih saat hujan turun? Tentu saja tidak. Mereka tengah merasakan haru yang tak dapat terbendung lagi. Air hujan kemudian turun ke bumi dan lantas membuat mahluk bumi merasakan haru yang serupa dengan langit.

Sore itu hujan deras mengguyur bumi. Begitu pula dengan diriku menangis tersedu seiring dengan pesan balasan yang kau kirim padaku. Disana tertulis kata maaf di awal kalimat yang dilanjutkan dengan deretan kata manis nan indah. Mungkin maksudnya adalah agar aku tak terlalu sakit hati dengan jawabanmu, namun nyatanya tidak. Air mata tetap mengalir menandai sebuas rasa perih yang mendalam atas detik itu.

Perkenalkan dunia, aku Anandini. Dunia ini telah akrab memanggilku nadin. Tak ada yang istimewa dari hidupku. Hanya manusia biasa dengan jutaan kekurangan dalam dirinya meski begitu, aku tetap ingin mencicipi rasa bahagia di dunia ini. Bukankah itu adalah hak ku sebagai seorang anggota mahluk dunia? Dan bagiku saat ini kebahagiaan adalah menemukan seseorang yang mau menemaniku, menerima keluh kesahku, dan meluangkan waktu untuk mendengar ceritaku. Saling bertanya kabar adalah hal yang menurut pikiranku, sangat bisa membuat hidupku yang  sederhana ini terasa indah.

Demi kebahagiaan itu, aku merelakan waktu ku untuk menuju saat itu. Aku menunggu dan tak ada yang datang. Kemudian aku mencari namun tak ada yang sehati. Lantas ku hentikan perjalanan. Menghentikan perjalanan adalah sebuah keputusan besar yang telah aku ambil. Aku telah lelah dengan semua ketidakpastian dunia. Namun begitu, aku pun berpikir, bukankah ketika aku menghentikan langkahku maka sudah sepatutnya aku pun mengakhiri hidupku? Karena jika tidak, maka aku hanya gelandang tak berguna yang hanya memenuhi volume bumi. Aku ada namun tak ada. Maka pikiran itu kemudian membuat aku ingin segera mengakhiri kehidupanku yang sama sekali tak indah. Telah ku siapkan setoples obat untuk menghilangkan nyawaku, sempat aku memegang pisau, namu aku tak ingin menumpahkan darah. Lebih baik aku akhiri semuanya dengan tapi dan bersih.

Sambil menghitung jumlah tablet, aku mendengar suara adzan magrib telah berkumandang. Aku hentikan hitunganku, lalu menjawab adzan dan mangakhirinya dengan doa. Selepas mengusap wajahku, aku kemudian berpikir, betapa pendek pikirku untuk mengakhiri hidup, padahal tuhanku masih mengizinkan aku untuk bersujut seraya menyebut namanya. Air mata yang tak tertahan kemudian mengalir begitu saja. Istigfar terucap dari bibiru. Ya Allah maafkan aku yang sempat tak memikirkanmu. Maafkan aku yang hanya haus akan dunia dan kecewa dibuatnya. Maafkan aku yang bahkan tak pernah menyempatkan bibir ini mengucap namamu.

Selepas solat, aku memanjatkan doa agar aku dapat menikah. Itu keinginanku selama ini. Aku bahkan mengejar dunia hanya untuk ini. Namun aku selalu kecewa. Kali ini aku tak ingin kecewa lagi. Aku terus memohon agar aku dapat menikah. Seolah satu tujuan hidupku hanya untuk menikah.
Hari demi hari masih ku jalani, kulakukan berbagai ihtiar untuk bertemu dengan calon pendamping ku. Hingga suatu hari aku sampai di hadapan ka’bah. Aku memanjatkan doaku yang hingga saat itu belum juga terkabul. Tanpa menyadari bahwa di hadapanku tengah berdiri sesosok laki laki yang dulu sempat berucap maaf padaku. Dan kali ini ia mengucapkan hal yang sama. “maaf aku telah meninggalkanmu, kini aku sudah siap. Mari kita lanjutkan apa yang telah tertunda” air mata berderai, syukur tak henti ku ucap. Isyarat aku menyetujuinya. Tanpa berlama lama akad terucap, cincin terpasang, dan bibirnya telah berada di kening ku. Aku kemudian menangis untuk kesekian kalinya. Setelah penantian yang sangat lama ini, kemudian Allah jawab melalui orang yang sama, yang sedari dulu telah ku tunggu.

Sepulang akad, kami memasuki kamar hotel yang sama. Aku kemudian mandi dan mengganti pakaianku, begitu pun dengan dirinya. Kami sama sama menaiki ranjang. Rasa syukur tak pernah henti aku ucap. Betapa tidak, kini aku telah bersama ornag yang sangat aku dambakan. Dia kemudian mendekapu dalam pelukan hangatnya. Selimut menutup tubuh kami. Belaian lembut tangannya telah menidurkanku. Sungguh indah, sungguh nyenyak, hingga aku tak inin terbangun lagi di keesokan harinya. Dan hari hari berikutnya. Terimakasih suamiku, telah menemaniku memenuhi keinginanku. Dan kini aku telah bahagia. Aku percaya kau pun akan bahagia, karena kau adalah orang yang sangat baik. Aku mencintaimu.

Being an admirer is weird

Pernahkah tepikir sebenarnya apa sih yang harus dilakukan saat menyadari kalo kita sedang menyukai seseorang? apa aturannya? apa yang boleh ...