Ini sebuah kisah tentang aku dan seorang yang tak akan pernah lekang dari anganku.
Kisah ini tak berawal dari pertemuan pertama kita, hanya saja saat itu membuat sebuah pintu terbuka perlahan dan semakin lebar.
Usiaku belum genap 11 tahun, mataku sempat memandangi wajahmu. Hanya sekilas, namun meninggalkan bekas yang jelas.
Setahun berlalu wajah itu ku jumpai lagi. Kita bertemu di SMP yang sama. Aku tak tau namamu, apalagi kau. Tak mungkin mengenal ku.
Aku sangat hafal raut muka itu. Alis tebal, suara datar dan tampak jutek. Iya itu kamu yang dulu.
Kau tak pernah mau mengenalku saat itu, aku sangat yakin, jika bukan karena lomba mipa, matamu itu mungkin tak akan pernah berpapasan dengan mataku.
Kau cukup sombong ku kira. Tapi aku tak pernah peduli. Semakin lama semakin suka dan semakin banyak rumor tentang hubungan mu dengan perempuan lain. Bagaimana tidak, kaun pintar, kau tampan, kau baik, kau soleh. Wanita mana yang akan menolak mu? Mereka terlalu bodoh untuk menolakmu.
Setiap hari aku menunggumu pergi dan pulang dari masjid. Matamu tak pernah tertuju padaku, namun aku tak peduli. Yang aku tau hanya aku menyukaimu.
Tiga tahun berlalu, bertegur sapa adalah hal yang mustahil. Aku ingat betul bahkan waktu kau bertanya tentang jadwal, kau tak mau aku yang menjawabnya.
Yes saat itu aku sakit hati dan tak ingin lagi menyukai mu.
Takdir berkata lain. Lulus SMP bahkan kita berada di SMA yang sama. Apakah ini yang namanya takdir? Aku kira hanya kebetulan. Namun hari demi hari yang aku lewati, perasaan baru mulai muncul. Bukan hanya sekedar suka, ternyata aku sungguh ingin memilikimu hingga akhir nanti.
Tak ada jalan mulus untuk sebuah tepukan dari sebelah tangan. Walau beribu perhatian kau lontarkan yang membuatku baper seketika dan makin mencintaimu, selalu ada saat dimana aku merenungi bagaimana sebenarnya perasaamu padaku?
Tak jarang aku menangis hanya memikirkanmu.
Sungguh malang
Aku pernah mencoba mencari pengganti, namun kelak aku selalu kembali padamu. Bahkan setelah tujuh tahun sejak pertama kali bertemu, aku masih mengharapkan perasaanmu.
Sampai saat ini aku tak pernah tau betul apa sebenarnya isi hatimu. Walau sempat ku beranikan diri untuk bertanya dan jawaban tak sesuai harapan, aku tetap berharap.
Apakah aku terlalu bodoh untuk menunggu? Atau hal ini memang bagian dari sebuah kesetiaan? Apa menurutmu?