Rabu, 28 Agustus 2019

Rysmawan

Ini sebuah kisah tentang aku dan seorang yang tak akan pernah lekang dari anganku.
Kisah ini tak berawal dari pertemuan pertama kita, hanya saja saat itu membuat sebuah pintu terbuka perlahan dan semakin lebar.

Usiaku belum genap 11 tahun, mataku sempat memandangi wajahmu. Hanya sekilas, namun meninggalkan bekas yang jelas. 
Setahun berlalu wajah itu ku jumpai lagi. Kita bertemu di SMP yang sama. Aku tak tau namamu, apalagi kau. Tak mungkin mengenal ku. 
Aku sangat hafal raut muka itu. Alis tebal, suara datar dan tampak jutek. Iya itu kamu yang dulu.
Kau tak pernah mau mengenalku saat itu, aku sangat yakin, jika bukan karena lomba mipa, matamu itu mungkin tak akan pernah berpapasan dengan mataku.

Kau cukup sombong ku kira. Tapi aku tak pernah peduli. Semakin lama semakin suka dan semakin banyak rumor tentang hubungan mu dengan perempuan lain. Bagaimana tidak, kaun pintar, kau tampan, kau baik, kau soleh. Wanita mana yang akan menolak mu? Mereka terlalu bodoh untuk menolakmu. 

Setiap hari aku menunggumu pergi dan pulang dari masjid. Matamu tak pernah tertuju padaku, namun aku tak peduli. Yang aku tau hanya aku menyukaimu.
Tiga tahun berlalu, bertegur sapa adalah hal yang mustahil. Aku ingat betul bahkan waktu kau bertanya tentang jadwal, kau tak mau aku yang menjawabnya. 
Yes saat itu aku sakit hati dan tak ingin lagi menyukai mu. 

Takdir berkata lain. Lulus SMP bahkan kita berada di SMA yang sama. Apakah ini yang namanya takdir? Aku kira hanya kebetulan. Namun hari demi hari yang aku lewati, perasaan baru mulai muncul. Bukan hanya sekedar suka, ternyata aku sungguh ingin memilikimu hingga akhir nanti. 

Tak ada jalan mulus untuk sebuah tepukan dari sebelah tangan. Walau beribu perhatian kau lontarkan yang membuatku baper seketika dan makin mencintaimu, selalu ada saat dimana aku merenungi bagaimana sebenarnya perasaamu padaku?
Tak jarang aku menangis hanya memikirkanmu.
Sungguh malang

Aku pernah mencoba mencari pengganti, namun kelak aku selalu kembali padamu. Bahkan setelah tujuh tahun sejak pertama kali bertemu, aku masih mengharapkan perasaanmu.

Sampai saat ini aku tak pernah tau betul apa sebenarnya isi hatimu. Walau sempat ku beranikan diri untuk bertanya dan jawaban tak sesuai harapan, aku tetap berharap.

Apakah aku terlalu bodoh untuk menunggu? Atau hal ini memang bagian dari sebuah kesetiaan? Apa menurutmu?

Selasa, 06 Agustus 2019

Let's open your mind, Girls

Akhir-akhir ini berapa informasi yang masuk ke kepalaku bergaris besar mengenai derajat seorang perempuan. Apa yang terlintas di benakmu ketika berbicara tentang derajat perempuan?


Beberapa hari yang lalu aku sempat menonton sebuah vlog yang berisikan opini mengenai sikap seorang perempuan. Entah karena pembicaranya seorang perempuan atau memang begitu adanya, tapi aku juga merasakan hal yang sama sebagai seorang perempuan. Dalam vlog tersebut pembicara mengulas mengenai perlakuan lingkungan kepada perempuan. Dalam kasusnya si pembicara membicarakan tentang ejekan-ejekan yang sering kali dilontarkan oleh laki-laki kepada perempuan. Salah satunya adalah menyuruh perempuan untuk tersenyum seperti “neng senyum dong”,”neng cantik jangan judes aja dong”. Semua ujaran itu seakan suruhan kepada perempuan untuk mematuhi mereka dan memenuhi kepuasan laki laki. Apakah itu bukan salah satu pelecehan perempuan? Sebagai seorang perempuan tentu aku sendiri pun merasa terganggu dan sangat tidak nyaman dengan perlakuan tersebut. 



Kemudian ada pihak lain yang merasa tersinggung dan menyalahkan perempuan dengan alasan “laki-laki juga tidak akan bersikap begitu jika si perempuan mau menutup auratnya” itu memang benar bahwa perempuan harus menutup aurat, tetapi disini mereka menyalahkan perempuan seakan semua kesalahan ada dalam tanggungan perempuan dan perempuanlah yang harus menjaga agar pandangan laki-laki aman damai sentosa. Helloooowwww kenapa bukan mata laki-lakinya aja yang dijaga, kenapa bukan laki-lakinya aja yang bersikap sopan, kenapa bukan laki-laki aja yang normati perempuan. 



Semuanya serasa kita yang harus bertanggung jawab atas setiap perilaku laki-laki kepada kita. I know ga semua laki-laki seperti itu, bun in reality menemukan laki-laki macam itu tidaklah susah.

Apakah masih mikir kalo itu literally salah perempuan? Ternyata ungkapan perempuan selalu benar itu sangat salah. Perempuan selalu serba salah. Menutup aurat dengan rapat lantas memicu cibiran apalagi di lingkungan kita. 


Dikatalah so alim, dan setiap melakukan kesalahan sekecil apapun tak akan pernah lepas dari pandangan orang-orang disekitar. Lah.. jadi kesitu ya



Minggu lalu aku juga sempat menonton sebuh film dari korea yang menceritakan kehidupan seorang polisi wanita yang dalam pekerjaannya sering kali mendapat olokan dari kaum laki-laki. Dalam film tersebut sang polisi wanita itu menghadapi sebuah kasusmengenaipelecehan seksual terhadap perempuan khususnya remaja hingga menyebabkan tragedy bunuh diri di berbagai tempat. Dari yang aku amati, film ini mengambarkan bahwa tidak adanya rasa hormat kaum laki-laki terhadap perempuan. Disini perempuan berperan menjadi boneka yang digunakan sebagai alat pemuas nafsu laki-laki.



Dari vlog dan film yang sudah dipaparkan, terlintas dipikiranku bahwa saat ini sangat gencar sekali tagline “Nikah Muda”. Tak bermaksud menghina, merendahkan atau bahakan menyalahkan. Tagline tersebut harusnya ditambahkan kata “Bila Sanggup”. Karena pada kenyataanya banyak remaja yang memilih untuk menikah muda dan menyandang status duda/janda tak lama dari tanggal pernikahannya. Saat ini kegencaran nikah muda telah menggambarkan kepada kaum remaja seolah menikahadalah tujuan utama dan jalan akhir dari setiap masalah. Terlebih pada perempuan. “Kulah mah capek, mending nikah aja”, “udah ga sanggup bikin skripsi, mending nikah”. Aku mau tanya, menurut kamu dimana mendingnya?

Aku pernah menjumpai beberapa anak SMA yang setiap kali diajak mengobrol perkataannya selalu merujuk pada hubungan dengan laki-laki dan menikah. Mereka tidak pernah bilang masalah pacaran karena mereka sungguh tau bahwa pacaran adalah hal yang sangat dilarang oleh Allah SWT. Tapi mereka membicarakan menikah. Taukah kamu apa penyebabnya? Itu dia, musim nikah muda. Walaupun itu bukan hal yang haram untuk diperbincangkan di kalangan anak SMA atau bahkan anak-anak, tapi pantaskah? Sedangkan mereka masih harus focus dengan ujian sekolah mereka yang menggunung? Mereka membicarakannya seakan menikah hanya tinggal akad saja dan sah dan hidup bahagia. Aku tidak so menghindar, aku juga pernah berpikir begitu sebelum akhirnya sadar bahwa laki-laki itu bukan segalanya. Melihat perempuan menangis karena laki-laki itu adalah hal yang sangat mengenaskan. Kayanya ga ada lagi gitu yang bisa buat hidup bahagia selain mereka. Oh my God. Aku ga ngomongin orang yang sudah sah. 


Suatu hari ada sebuah story wa milik temanku yang berisi sebuah pilihan dan disana tertera 

“pilih mana yang lebih baik:
Suami poligami
Suami selingkuh
Suami gay”
Kurang lebih begitu. Dan temanku menjawab lebih baik ditinggalkan. Aku jelas sangat setuju. Jika di dunia ini tidak ada lagi laki-laki selain pilihan yang tertera di atas, maka jelas saya memilih sendiri. Buat apa ngagugulung kanyeri. Masih ada orang tua yang perlu kita bakti. Untuk apa berjuang demi laki-laki yang tidak mau menghargai perempuan. Tanyalah pada laki-laki itu, apakah diapun akan melakukan hal yang sama jika hal serupa terjadi pada ibunya?
So scary


Jadi buat temen-temen khususnya perempuan coba tanya pada diri sendiri, apakah sepenting itu laki-laki hingga sanggup mengorbankan segalanya tanpa mempedulikan keinginanmu, kebahagiaanmu, dan kebebasanmu? Apakah setinggi itukah derajat laki-laki sehingga perempuan sangat boleh dihinakan? Dimana harga diri perempuan? 

Being an admirer is weird

Pernahkah tepikir sebenarnya apa sih yang harus dilakukan saat menyadari kalo kita sedang menyukai seseorang? apa aturannya? apa yang boleh ...