Kali ini, aku tak telak menelan bulat apa yang kamu rasakan. Berbagai pertimbangan muncul dalam pikirku. Kesannya mungkin sepeti aku sudah tak lagi mempercayaimu. Tapi rasa itu masih ada.
Awal semester 5, kami semua anak kelas 12 masih menjadi pengurus di organisasi. Rapat untuk acara masih kita lakukan. Hari itu sore dengan hujan yang lebat, kamu menyuruh semua anggota pulang terlebih dahulu, menyisakan aku dan seorang teman perempuan juga teman laki laki.
Aku tak tau apa rencanamu, aku menurut saja. Sampai gerimis tutun, kamu mengajak kami semua pulang. Tentu saja berpasangan, hanya pemilik motor yang dapat mengemudikan kendaraanya.
Teman perempuanku sempat menaiki motormu. aku tau kalian adalah teman dekat sejak dulu. tak ada cemburu sedikitpun. Tapi entah mengapa aku sama sekali tak melangkahkan kakiku dari samping motormu. Hingga teman perempuanku turun dari motormu dan menaiki motor satunya.
Itu adalah jawaban aku emnunggu di samping motormu. Tampa menunggu lama, aku nak di motor jupiter merah itu. Untuk pertama kalinya kamu mengantarku tepat di depan pagar rumahku. aku ucapka terimakasih dan aku masuk ke rumah.
Apa yang aku rasakan saat itu? bahagia? tentu saja. Aku telah menantikan saat saat ini lebih dari 5 tahun lalu. Aku senang kamu tau rumahku.
Kemudian hal yang sama terulang kembali. Itu sepertinya saat akhir semester menjelang ujian praktek. Selesai latihan aku ditinggal pulang oleh dua temanku yang biasanya pulang bersama karena mereka punya kepentingan lain.
Hujan sangat deras mengguyur sekolah dan hari sudah semakin gelap. aku bingung bagaimana caranya pulang sementara teman temanku sudah akan pulang dengan motor mereka. Tentu saja karena tak ada yang searah, aku makin bingung untuk pulang. Tapi kemudian kamu datang, yang jelas bukan mau jemput aku. aku hanya liat kamu melewatiku tanpa senyum sedikitpun. Aku sedang marah saat itu, bukan karena senyuman yang menghilang dari wajahmu, tapi aku sedang sebal dengan perasaanku yang tak pernah kamu balas. jika saja saat itu aku sedang tidak sebal, mungkin aku sudah memohon mohon untuk minta tumpangan. Tapi saat itu tidak.
Teman sekelasku semakin hawatir, bagaimana aku pulang. Sampai salah satu teman ku mengambil inisiatif memanggilmu dan meminta tumpangan untukku. Tentu saja aku malu, sangat malu. aku sedang marah padamu. Tapi dengan sangat terpaksa karena tak ada cara lain agar aku bisa pulang, akhirnya aku ikut saja.
Hujan sangat deras. Tapi kamu bahkan tak bertanya untuk berteduh, malah kamu bilang "gapapa kalo ujan ujangan" ya sudah jelas jawabanya gapapa. Ga tau malu banget rasanya kalo aku harus minta berteduh sementara aku hanya menumpang. Akhirnya kita menerjang hujan. Kali ini kamu tak membawa motor jupiter kecintaanmu, kamu bawa motor ayahmu yang gede itu. Bukannya ga nyaman, tapi malu sekali pas dijalan berpapasan dua teman yang tadi meninggalkan aku. Mereka bilang "pantes aja ga mau pulang bareng, ini tah alesan nya".
Aku sudah pura pura tak melihat mereka, malah sudah memalingkan wajahku. Tapi kamu malah bunyiin klakson. hadehhh.
Pokonya aku selamat sampai rumah, Alhamdulillah. makasi ya kamu. hehe
