Rabu, 18 Oktober 2023

Perjalanan: Ingin Menikah

 

Aku ingin menikah...
Itu mungkin pikiran yang sering kali terlintas setiap melihat kemesraan sepasang suami istri yang baru saja menikah dan menikmati masa masa pengantin baru. Atau mungkin saat melihat sesosok laki-laki yang memenuhi kriteria suami idaman. Mudah untuk mengucapkannya, mudah membuat hati berdebar-debar. Indah rasanya membayangkan dunia pernikahan dimana kehidupan dijalani berdua. Apa-apa berdua, makan berdua, beberes berdua, main berdua, solat berdua, tidur berdua, eh. Yang jelas rasanya hidup akan jaaaauuuhhh lebih indah karena ada yang menemani.

Tapi ternyata pernikahan tidak bisa dilihat satu sisi. Banyak kenyataan lain yang sering kali tidak terungkap sebelum memasuki dunia pernikahan. Ini bukan sisi gelap pernikahan, tapi bagian lain yang sering dilupakan pasangan muda sehingga memicu permasalahan dalam pernikahan. Kadang pemikiran ini justru baru datang saat hari pernikahan sudah semakin mendekat. Akan banyak sekali ujian mental yang datang, dan salah satunya ini, ketakutan setelah menikah. Hal itu wajar dan harus dihadapi dengan berlapang dada, ikhlas dan penuh keyakinan. Kendati demikian hal itu harusnya tak menjadi masalah ketika semuanya sudah dipersiapkan dengan baik dan matang. Persiapan yang baik itu bukan yang sempurna, tapi berusaha untuk mengetahui peran masing masing sebagai pasutri, juga mau bertanggungjawab atas resiko yang telah diambil.

Umumnya seseorang menikah adalah dengan tujuan untuk mendapatkan keturunan, lalu bagaimana jika seseorang yang telah menikah tapi tidak mendapat keturunan. Apakah hal itu menjadikan tujuan pernikahan hilang dan mengancam ikatan pernikahan? Kemudian tujuan yang lain mungkin menikah adalah untuk mendapatkan teman hidup yang dapat diandalkan. Lalu bagaimana jika sepasang suami istri ternyata mendapati salah seorang diantara mereka tidak dapat memenuhi tujuan itu, apakah hal itu juga akan membuat pernikahannya tidak berlanjut?

Banyak pernikahan terancam dan mengalami perpisahan karena tidak kukuhnya tujuan untuk menikah. Tidak adanya kesepakatan visi misi yang menjadi pedoman perjalanan pernikahan. Maka pernikahan bukan hanya sekedar menyatukan dua orang, sekedar untuk mendapatkan keturunan, sekedar mempermudah kehidupan. Tapi lihatlah pernikahan dari kacamata agama. Sebagai sebuah ibadah yang tak akan ada ujung nya. Dan hal itu akan menjadikan pernikahan lebih kukuh, dengan tujuan mencari ridho Allah. 

Mengapa kemudian pernikahan merupakan penyempurnaan separuh agama? Karena didalamnya terdapat banyak hal, ujian dan amalan yang dapat membukakan pintu-pintu pahala. Beberapa orang menyebutkan bahwa pernikahan bukanlah penyelesai masalah, melainkan mencari masalah. Maka dari itu persiapannya pun bukan main main. Perlu persiapan mental, ilmu, dan fisik. Ketiganya harus seimbang sehingga seseorang dianggap siap menghadapi dunia pernikahan.

Berkaitan dengan hal itu pula, menurut ustadzah Siti Fatiyyah ada 4 pilar pernikahan yang harus menjadi perhatian bagi orang yang hendak menikah:

1. Ikhlas, mengapa menikah harus ikhlas? karena kita sedang menjalankan perintah Allah. Mengapa harus ikhlas untuk taat pada suami? karena taat pada suami itu bukan perintah suami, tapi perintah Allah. Mengapa harus ikhlas ketika mencari nafkah? karena mencari nafkah bukanlah tuntutan dari istri, melainkan perintah dari Allah. setiap dari kita yang akan menikah harus dipastikan telah memahami hak dan kewajibannya masing masing. sehingga kesalahpahaman dapat dengan mudah diminimalisir. Itulah mengapa persiapan ilmu sangat diperlukan.

2. Sabar, kalo ditanya sabar itu apa sih? yang seperti apa sih? bingung kan mau jawab apa. haha. Sabar adalah menerima dengan lapang dada setiap ketentuan yang telah Allah berikan, dihadapi dengan dingin hati dan dicari penyelesaiannya tanpa melibatkan emosi didalamnya. Sabar adalah hentakkan pertama ketika suatu hal terjadi. Sabar dalam rumah tangga terbagi menjadi tiga: a. sabar dalam menjalankan perintah Allah. b. sabar dalam menjauhi larangan Allah. c. sabar dalam menghadapi cobaan.

3. Cinta dan kasih sayang, bumbu penyedap yang menjadikan rumah tangga indah adalah cinta dan kasih sayang.

Minggu, 15 Oktober 2023

Perjalanan: Memaknai Kehidupan



Pada saat ini, aku sedang dihadapkan pada banyak situasi yang sangat kontras. Banyak kondisi yang harus dipilih sebagai bagian dari rangkaian perjalanan. Mestinya lebih mudah memilihnya karena semakin sini semakin jelas perbedaannya. Namun ternyata justru itulah yang membuat keputusannya semakin sulit. Aku kemudian dihadapkan pada hal hal yang selama ini aku genggam. Benar saja bahwa setiap orang akan diuji dengan apa yang mereka cintai, entah itu keluarga, sahabat, harta, bahkan jabatan. Semula kau tidak pernah berpikir bahwa apa yang aku cintai akan di uji, dan ketika ayah dijemput lebih dulu, kemudian aku mulai merenung. Namun dengan kepergian ayah yang selama ini menderita sakit, aku bersyukur karena Allah sudah meridhoi ayah untuk pulang, karena sakit yang ayah rasakan kini telah berhenti. Walau terasa sulit, namun dengan percaya pada takdir terbaik yang Allah berikan semua akan terasa lebih lapang.
Dari kepergian ayah kemudian aku merasakan banyak hal baru berdatangan, banyak perasaan ingin semakin mendekat pada Allah, ingin bertemu lagi nanti, ingin berkumpul bersama lagi dengan orang orang terkasih. Dan kini ingin ku hanya satu, membanggakan mereka nanti. Allah mungkin mengambil ayah lebih dulu agar kemudian aku sadar bahwa aku harus membanggakan nya nanti di akhirat. Mengingatkan aku bahwa ada yang lebih penting dari semua hal yang aku kejar dan inginkan saat ini. Dan aku bersyukur atas hal itu. Aku berterimakasih pada ibu, karena aku percaya ibu lah yang selalu mendoakan kami anaknya untuk menjadi orang shalih. Aku pun kemudian merasakan bahwa semakin hari aku semakin mampu membedakan hal hal yang mendukung dan tidak pada hal yang aku cita citakan. Hal yang sama ternyata terjadi di dunia pertemanan ku.
Genggam lah tangan sahabatmu yang mengingatkan pada kebaikan, sungguh ia sangat berharga, karena bilamana kelak kau tidak ada di sampingnya, maka dia akan mencarimu dan bersaksi atas persahabatan kalian. Maka hal itu pula yang aku inginkan. Karena aku pun tak bisa menjamin bahwa kelak aku yang akan berada di surga. Maka hendaknya mempersiapkan segala macam cara dan jalan untuk memperbesar kemungkinan itu.
Karena jaminannya adalah surga, maka hal itu tentu saja tak mudah untuk dilakukan. Memilih untuk berteman dengan orang orang yang shalih bukan perkara mudah, apalagi mereka adalah orang yang berbeda dengan teman saat ini. Berat rasanya untuk meninggalkannya, namun hati pun terus merasa janggal dan tak nyaman dengan keadaan itu. Maka inilah ujian nya. Maka inilah jalan yang dijanjikan bahwa manusia akan diuji dengan apa yang ia cintai.

Being an admirer is weird

Pernahkah tepikir sebenarnya apa sih yang harus dilakukan saat menyadari kalo kita sedang menyukai seseorang? apa aturannya? apa yang boleh ...