Senin, 09 Desember 2019

Ulang Tahun

Ingin memulai, dan sangat ingin. Tapi aku juga bingung harus dari mana? Hingga suatu ketika obrolan ringan dengan teman sekelas mu membawa ku pada saat itu. Kita saling bersapa dan menegur. Mungkin kau tak akan pernah mengingat saat itu, karena sangat amat singkat. Tapi aku selalu mengingatnya.

Dari sanalah aku mulai berani untuk menyapa kembali sampai kemudian kita ditempatkan dalam organisasi yang sama dan menuntut kita untuk terus bertemu dan berhubungan.

Kau tanya perasaanku apa? Senang jawabku

Dalam setiap perjalanannya tentu aku tidak pernah sempurna, tak jarang kau ku buat kecewa, meski kau tak pernah memperlihatkan nya.

Hari itu, tanggal 29 November 2016 untuk pertama kalinya aku mengucapkan selamat ulangtahun untukmu. Tahun tahun sebelumnya juga telah kulakukan. Tapi mungkin kau tak akan mendengar nya. Suaranya sangat nyaring dalam hatiku.
Kalau kau tanya dari mana aku tau tanggal lahir mu? Jawabannya dari lembar nilai ujian. Terlalu panjang jika diceritakan. 
Aku jawab semua pesan dan doamu dengan kata Aamiin dan aku berharap hal yang sama untuk mu. Lalu kau jawab aamiin.

Seiring waktu, usia kita terus bertambah. Begitu pula hubungan kita, terus berkembang.
Aku tak pernah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tapi aku selalu berharap itu adalah hal yang baik untuk kita.

Dan tanggal 18 Maret 2017, kali pertama di hidupku.
Ucapan selamat kau layangkan atas bertambahnya usiaku.
Senang bukan kepalang, hal ini sudah sangat aku inginkan sejak dulu.
Aku masih sangat ingat pesanmu, meski sudah aku hapus. Termasuk 3 pesan dengan emoticon yang kau hapus. itu lucu. aku suka. dirimu.

Minggu, 13 Oktober 2019

Buah Sabar

Pada jaman dahulu… cyaelah ga selama itu juga sih. Sekitar 14 tahun yang lalu telah dipertemukan seorang laki-laki dan perempuan dalam sebuah sekolah SMA yang sama. Nama SMA nya rahasia ya hehe.. mereka tidak pernah satu kelas. Yaiya lah orang beda satu tahun. Dekat atau tidak, mereka hanya berteman. Sejauh apa hubungan mereka, sangan dangkal hanya sebatas teman. Hingga dunia baru menyatukan mereka. Kebetulan Allah takdirkan mereka menimba ilmu dikampus yang sama. Karena berasal dari almamater SMA yang sama, akhirnya mereka dipertemukan dalam forum mahasiswa dari daerah yang sama. Begitulah kiranya mereka bisa mengenal lebih dalam.

Layaknya manusia normal yang lain, kedua insan ini ternyata saling memberikan kasih sayangnya sebagai teman yang mesra dalam membantu mengerjakan tugas. Begitu kiranya kisah kencan pasangan mahasiswa, tak akan jauh dari kata tugas. Apalagi mengingat keduanya berkuliah di kampus ternama dan amat bergengsi. Itu tuh si gajah duduk. Wkwk
Meskipun berbeda jurusan, ternyata tak menghentikan langkah mereka untuk bertemu dan menugas.

Tahun ke-4 pun dimulai. Langkah mereka mulai jauh dan makin menjauh ketika sang lelaki telah menyadari bahwa hubungan mereka selama ini tidak direstui Allah. Ia merasa bahwa jika ingin memuliakan wanita maka hendaknya ia menikahinya. Maka mulai saat itu putuslah hubungan mereka sebagai kekasih.
Tapi tidak dengan pertemanan. Keduanya masih saling membantu tugas, bahkan saling menghadiri wisudaan.
Dua tahun berlalu setelah kelulusan mereka.

Sempat bekerja dibeberapa perusahaan. Tapi mungkin jodoh mereka bukan disana, sehingga salah satu dari mereka berhenti dari pekerjaannya. Sang lelaki merelakan gaji 50 juta perbulan hanya karena jam kerjanya menabrak waktu solat.

Sama halnya dengan sang lelaki, sang wanita pun berhenti dari pekerjaannya, tapi entah apa alasan jelasnya. Lalu ia mendapatkan pekerjaan baru di kantor yang lebih besar dalam waktu yang singkat. Wow

Lain halnya dengan sang lelaki. Tiga tahun ia menjalani kehidupannya dengan mengajar bimbel di rumahnya. Menurutmu apa pandangan orang tentang seorang sarjana lulusan universitas ternama yang menganggur karena merelakan pekerjaan yang menyita waktu solat.

Kesabaran tiasa henti dijalani. Hingga menemukan cahaya dari jalan yang telah Allah rencanakan.

Dia beranikan diri untuk meminang orang yang telah ia cintai sejak dulu. Walau masih dalam status yang belum mapan. Sebagai laki-laki, apakah kau akan merasa malu karena istrimu bekerja di perusahaan besar sedangkan kau hanya guru bimbel? Apa kata mertuamu nanti?

Tidak begitu cara sang lelaki memandangnya. Ia hanya meyakini jika kita memilih jalan yang Allah ridhoi, maka Allah akan berikan segala fasilitas yang dibutuhkan untuk menempuh jalan itu.

Ternyata selama ini dia mengajar bimbel adalah untuk mengingat kembali materi untuk tes cpns. Tanpa les, bahkan dia dibayar sambil belajar. Sungguh cemerlang bukan?

Tahun pertama mungkin bukan rejekinya, tapi dia tetap gigih dan mencobanya di tahun kedua. Dengan berbekal doa orang tua dan istri Alhamdulillah dia diterima menjadi seorang PNS dan saat ini ia bekerja di kantor yang tepat bersebrangan dengan kantor istrinya bekerja.

Ketika Allah telah menguji ego kita, sadarkah kau bahwa Allah akan menggantinya suatu hari nanti? Akan Allah berikan semua yang lebih dari apa yang kita relakan. Allah sangat mencintai orang yang memprioritaskan-Nya, bukan memprioritaskan ego sendiri. Kita tak harus menjadi sempurna di mata manusia. Karena sekeras apapun kita berusaha, kita tak akan pernah menjadi sempuna.

Rabu, 09 Oktober 2019

Menunda Solat


Ada seorang wanita bertanya kepada'' mufti :"Bagaimana caranya membangunkan anak-anak saya yang sedang tertidur nyenyak untuk sholat Subuh ?" Mufti menjawab dengan balik bertanya kepada wanita tersebut :"Apa yang akan kamu lakukan jika rumahmu terbakar dan pada saat itu anak-anakmu sedang tidur nyenyak ?" Wanita tersebut berkata :"Saya pasti akan membangunkan mereka dari tidurnya." Mufti menjawab :"Bagaimana jika mereka sedang tertidur nyenyak sekali ?" .

Wanita itu kemudian menjawab :"Demi ALLAH! Saya akan membangunkan mereka sampai bener-benar bangun, jika mereka tidak bangun juga, saya akan menarik menyeret mereka sampai keluar dari rumah." Mufti kemudian menjawab :"Jika itu yang kamu akan lakukan untuk menyelamatkan anak-anakmu dari api dunia, lakukanlah hal yang sama untuk menyelamatkan mereka dari api neraka di akhirat kelak." Dari : Abuya As-Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki

AKIBAT SUKA SHOLAT DI UJUNG WAKTU

Para Malaikat menyeretnya melewati orang banyak, menuju ke arah api neraka yang menyambar-nyambar.

Dia menjerit sekuat tenaga dan bertanya-tanya barangkali ada orang yang mampu membantunya.

Dia menjerit lagi sambil menyebutkan semua kebaikan yang telah dia lakukan; bagaimana dia sering membantu orangtuanya. Bagaimana dia tidak pernah tertinggal puasanya, tidak pernah meninggalkan shalatnya, selalu bersedekah dan rajin membaca al-Quran.

Dia terus menjerit lagi, namun tidak  ada seorangpun yang tampil membantunya.

Para malaikat terus menyeret dia. Dan … mereka semakin dekat dengan kawah api neraka.

Dia menoleh ke belakang dan ini harapannya yang terakhir. Dia teringat …

Tidak! Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Bagaimana bersihnya seseorang yang mandi di sungai lima kali sehari dari kotoran, begitu juga bersihnya orang yang melaksanakan shalat lima kali sehari dari dosa-dosa mereka”

Dia menjerit lagi sekuat tenaga:

“Solat saya? Solat saya? Doa saya?”

Kedua malaikat tidak berhenti, dan terus menyeretnya ke tepi jurang neraka. Kembang api neraka yang membubung terasa menyambar mukanya.

Dia menoleh ke belakang lagi, tapi matanya telah kering dari setiap harapan dan dia tidak memiliki apa-apa lagi yang tinggal di dalam dirinya.

Salah satu malaikat menolak dia dan memasukan ke kawah neraka.

Dia mandapati dirinya terus melayang dan akhirnya jatuh ke dalam kawah api neraka yang menjulang tinggi selama 70 tahun.

Setelah 70 tahun sengsara dibakar api, tiba-tiba terasa tangannya diraih oleh satu lengan.

Dia ditarik kembali ke atas.

Ketika dia mengangkat kepalanya, dia melihat seorang pria yang sangat tua dengan jenggot putih yang panjang memegang tangannya.

Pria itu kelihatannya sangat daif.

Sambil menyapu debu di tubuhnya dia bertanya pada pria tua itu:

“Siapakah anda?”

Orang tua itu menjawab: “Akulah sholat anda”

“Mengapa kamu begitu terlambat bantu saya? Wahai shalatku, saya telah terjerumus ke dalam api neraka selama 70 tahun! Kenapa setelah tubuh saya hangus dan hampir hancur baru kamu datang selamatkan saya ? kenapa …?.”

Orang tua itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan berkata:

“Apakah kau lupa? Selama hidup di dunia dulu kamu selalu laksanakan saya pada saat-saat akhir !!”

“Setiap kali Maghrib kamu fokus pada sinetron tv dulu ..

“Dzuhur kamu lewat, kamu lebih mementingkan kerja daripada saya. Sholat ashar dan subuh juga selalu diujung waktu.

“Kamu ingatkah itu semua ??”

Penjelasan pria tua itu mengejutkannya dari tidur …

Dia terjaga dan mengangkat kepalanya dari tidur. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat ketakutan …
Ya Allah.. Aku mimpi…

Tapi seperti nyata ..
Ketika itu juga ia mendengar suara adzan di kumandangkan menandai masuknya waktu shalat ashar.
Dia bangun dengan cepat dan mengambil wudhu. Dia berjanji tidak akan melalaikan shalat lagi. Dia menyadari kesalahannya sekarang. Dia telah mendapat petunjuk yang maha benar.
Sebarkan kisah ini kepada keluarga dan kawan-kawan anda. Mungkin anda dapat membantu mereka agar mulai sekarang mau menunaikan sholat tepat waktu.
Boleh di share biar lebih bermanfaat buat orang banyak

Rasulullah S.A.W bersabda :”Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala.” (HR. Al-Bukhari)

Minggu, 08 September 2019

Cemburu

Menurut kamu apa makna cemburu?


Sebuah kisah kecil telah mewarnai hariku. Menurutku itu cukup lucu. Tapi saat itu aku begitu serius menanggapi nya. Apakah kau merasakannya?



Terjadi pagi hari ketika aku hendak membuka pesan whatsapp dari salah satu teman sekelasmu. Ketika aku buka isinya dia mengirimkan fotonya sedang berada di sebuah kawah dengan mu.



Kau tau apa artinya itu? Mana aku tau toh dia memang teman sekelasmu.

Hanya komen biasa yang aku kirimkan dengan nada agak meledek. Aku sungguh ingin bertanya apa perasaanmu saat foto itu diambil?

Tak ada tanggapan serius dariku sampai foto itu dijadikan wallpaper, sampul WhatsApp, bahkan foto profil temanmu. Aku kita ini telah memasuki tahap yang cukup serius. Dan sindiran tak lagi mempan.


Malam itu sekitar pukul 10 malam. Aku menangis tersedu di kamarku. Menulis sebuah cacatan di buku berisi sebuah kekecewaan.



Setiap solat ku berisi kekhawatiran ku padamu. Apa yang akan terjadi dengan kita?



Apakah kau merasakannya? Aku memintamu untuk diriku?



Temanmu itu rupanya tak bisa jera. Kekesalanku makin meningkat. Dan akupun membencimu. Kau tak salah, aku yang salah.


Bertahan hanya sekitar dua minggu. Begitu ku lihat lagi wajahmu, hariku tak sanggup menahannya. 



Aku tak bisa bohong. 

Aku memang sayang padamu.




Kamis, 05 September 2019

Menolak

Apa yang akan kamu lakukan jika seorang laki laki mendatangimu dan tiba tiba menyatakan perasaanya walau tak beserta alasannya. Sedangkan laki laki itu tidak pernah sekalipun ada dalam daftar nama calon/incaran/kecengan/gebetan mu.


Ini situasi yang membingungkan tak tega rasanya bila harus menolak mentah mentah. Bukannya aku mau, tapi jalan yang dia abil pun tak sepenuhnya benar. Sehingga aku masih punya segudang alasan untuk menolaknya.

Di sisi lain hatiku juga berkata bahwa bukan hal bagus ketika mengecewakan bahkan menyakiti oerasaan orang lain. Aku tak pernah percaya karma, tapi aku selalu melihat gelagatnya. Apa yang kita lakukan pada orang lain kembali menimpa kita. Hanya sebatas alasan itu aku membiarkan nya begitu saja. Walau akhirnya tak ada hubungannya serius sama sekali. 


Aku tak tau apa rencananya. Yang aku tau kami tak pernah berhenti berdebat dalam chat. Sesingkat apapun chat itu. Aku tak pernah punya relasi yang pas rasanya. Aku juga merasa tak baik memaksakan yang sudah mengundang pertentangan. Terlebih dalam jalan yang salah. Walau tak aku pungkiri bahwa aku juga sempat ingin mencoba menjalaninya. 



Pacaran itu apa sih? Itu mungkin kata yang ingin aku ucapkan padanya. Berhubung dia punya mantan banyak. Aku tak ada pengalaman sama sekali dalam hal itu. Semua hal yang aku lakukan selalu tergantung mood ku. Dan dia selalu memperburuk mood ku. Entah karena perbedaan pendapat atau dia yang tak mau diajak bicara. 



Menurutku itu terlalu kekanak-kanakan. Aku tak tau apa isi kepalanya. Yang aku tau cara seperti itu tidak dewasa karena hanya membiarkan.

Aku tak melihat sedikitpun ada keseriusan yang dia tunjukkan.


Lantas, salahkah bila aku menolak?

Rabu, 28 Agustus 2019

Rysmawan

Ini sebuah kisah tentang aku dan seorang yang tak akan pernah lekang dari anganku.
Kisah ini tak berawal dari pertemuan pertama kita, hanya saja saat itu membuat sebuah pintu terbuka perlahan dan semakin lebar.

Usiaku belum genap 11 tahun, mataku sempat memandangi wajahmu. Hanya sekilas, namun meninggalkan bekas yang jelas. 
Setahun berlalu wajah itu ku jumpai lagi. Kita bertemu di SMP yang sama. Aku tak tau namamu, apalagi kau. Tak mungkin mengenal ku. 
Aku sangat hafal raut muka itu. Alis tebal, suara datar dan tampak jutek. Iya itu kamu yang dulu.
Kau tak pernah mau mengenalku saat itu, aku sangat yakin, jika bukan karena lomba mipa, matamu itu mungkin tak akan pernah berpapasan dengan mataku.

Kau cukup sombong ku kira. Tapi aku tak pernah peduli. Semakin lama semakin suka dan semakin banyak rumor tentang hubungan mu dengan perempuan lain. Bagaimana tidak, kaun pintar, kau tampan, kau baik, kau soleh. Wanita mana yang akan menolak mu? Mereka terlalu bodoh untuk menolakmu. 

Setiap hari aku menunggumu pergi dan pulang dari masjid. Matamu tak pernah tertuju padaku, namun aku tak peduli. Yang aku tau hanya aku menyukaimu.
Tiga tahun berlalu, bertegur sapa adalah hal yang mustahil. Aku ingat betul bahkan waktu kau bertanya tentang jadwal, kau tak mau aku yang menjawabnya. 
Yes saat itu aku sakit hati dan tak ingin lagi menyukai mu. 

Takdir berkata lain. Lulus SMP bahkan kita berada di SMA yang sama. Apakah ini yang namanya takdir? Aku kira hanya kebetulan. Namun hari demi hari yang aku lewati, perasaan baru mulai muncul. Bukan hanya sekedar suka, ternyata aku sungguh ingin memilikimu hingga akhir nanti. 

Tak ada jalan mulus untuk sebuah tepukan dari sebelah tangan. Walau beribu perhatian kau lontarkan yang membuatku baper seketika dan makin mencintaimu, selalu ada saat dimana aku merenungi bagaimana sebenarnya perasaamu padaku?
Tak jarang aku menangis hanya memikirkanmu.
Sungguh malang

Aku pernah mencoba mencari pengganti, namun kelak aku selalu kembali padamu. Bahkan setelah tujuh tahun sejak pertama kali bertemu, aku masih mengharapkan perasaanmu.

Sampai saat ini aku tak pernah tau betul apa sebenarnya isi hatimu. Walau sempat ku beranikan diri untuk bertanya dan jawaban tak sesuai harapan, aku tetap berharap.

Apakah aku terlalu bodoh untuk menunggu? Atau hal ini memang bagian dari sebuah kesetiaan? Apa menurutmu?

Selasa, 06 Agustus 2019

Let's open your mind, Girls

Akhir-akhir ini berapa informasi yang masuk ke kepalaku bergaris besar mengenai derajat seorang perempuan. Apa yang terlintas di benakmu ketika berbicara tentang derajat perempuan?


Beberapa hari yang lalu aku sempat menonton sebuah vlog yang berisikan opini mengenai sikap seorang perempuan. Entah karena pembicaranya seorang perempuan atau memang begitu adanya, tapi aku juga merasakan hal yang sama sebagai seorang perempuan. Dalam vlog tersebut pembicara mengulas mengenai perlakuan lingkungan kepada perempuan. Dalam kasusnya si pembicara membicarakan tentang ejekan-ejekan yang sering kali dilontarkan oleh laki-laki kepada perempuan. Salah satunya adalah menyuruh perempuan untuk tersenyum seperti “neng senyum dong”,”neng cantik jangan judes aja dong”. Semua ujaran itu seakan suruhan kepada perempuan untuk mematuhi mereka dan memenuhi kepuasan laki laki. Apakah itu bukan salah satu pelecehan perempuan? Sebagai seorang perempuan tentu aku sendiri pun merasa terganggu dan sangat tidak nyaman dengan perlakuan tersebut. 



Kemudian ada pihak lain yang merasa tersinggung dan menyalahkan perempuan dengan alasan “laki-laki juga tidak akan bersikap begitu jika si perempuan mau menutup auratnya” itu memang benar bahwa perempuan harus menutup aurat, tetapi disini mereka menyalahkan perempuan seakan semua kesalahan ada dalam tanggungan perempuan dan perempuanlah yang harus menjaga agar pandangan laki-laki aman damai sentosa. Helloooowwww kenapa bukan mata laki-lakinya aja yang dijaga, kenapa bukan laki-lakinya aja yang bersikap sopan, kenapa bukan laki-laki aja yang normati perempuan. 



Semuanya serasa kita yang harus bertanggung jawab atas setiap perilaku laki-laki kepada kita. I know ga semua laki-laki seperti itu, bun in reality menemukan laki-laki macam itu tidaklah susah.

Apakah masih mikir kalo itu literally salah perempuan? Ternyata ungkapan perempuan selalu benar itu sangat salah. Perempuan selalu serba salah. Menutup aurat dengan rapat lantas memicu cibiran apalagi di lingkungan kita. 


Dikatalah so alim, dan setiap melakukan kesalahan sekecil apapun tak akan pernah lepas dari pandangan orang-orang disekitar. Lah.. jadi kesitu ya



Minggu lalu aku juga sempat menonton sebuh film dari korea yang menceritakan kehidupan seorang polisi wanita yang dalam pekerjaannya sering kali mendapat olokan dari kaum laki-laki. Dalam film tersebut sang polisi wanita itu menghadapi sebuah kasusmengenaipelecehan seksual terhadap perempuan khususnya remaja hingga menyebabkan tragedy bunuh diri di berbagai tempat. Dari yang aku amati, film ini mengambarkan bahwa tidak adanya rasa hormat kaum laki-laki terhadap perempuan. Disini perempuan berperan menjadi boneka yang digunakan sebagai alat pemuas nafsu laki-laki.



Dari vlog dan film yang sudah dipaparkan, terlintas dipikiranku bahwa saat ini sangat gencar sekali tagline “Nikah Muda”. Tak bermaksud menghina, merendahkan atau bahakan menyalahkan. Tagline tersebut harusnya ditambahkan kata “Bila Sanggup”. Karena pada kenyataanya banyak remaja yang memilih untuk menikah muda dan menyandang status duda/janda tak lama dari tanggal pernikahannya. Saat ini kegencaran nikah muda telah menggambarkan kepada kaum remaja seolah menikahadalah tujuan utama dan jalan akhir dari setiap masalah. Terlebih pada perempuan. “Kulah mah capek, mending nikah aja”, “udah ga sanggup bikin skripsi, mending nikah”. Aku mau tanya, menurut kamu dimana mendingnya?

Aku pernah menjumpai beberapa anak SMA yang setiap kali diajak mengobrol perkataannya selalu merujuk pada hubungan dengan laki-laki dan menikah. Mereka tidak pernah bilang masalah pacaran karena mereka sungguh tau bahwa pacaran adalah hal yang sangat dilarang oleh Allah SWT. Tapi mereka membicarakan menikah. Taukah kamu apa penyebabnya? Itu dia, musim nikah muda. Walaupun itu bukan hal yang haram untuk diperbincangkan di kalangan anak SMA atau bahkan anak-anak, tapi pantaskah? Sedangkan mereka masih harus focus dengan ujian sekolah mereka yang menggunung? Mereka membicarakannya seakan menikah hanya tinggal akad saja dan sah dan hidup bahagia. Aku tidak so menghindar, aku juga pernah berpikir begitu sebelum akhirnya sadar bahwa laki-laki itu bukan segalanya. Melihat perempuan menangis karena laki-laki itu adalah hal yang sangat mengenaskan. Kayanya ga ada lagi gitu yang bisa buat hidup bahagia selain mereka. Oh my God. Aku ga ngomongin orang yang sudah sah. 


Suatu hari ada sebuah story wa milik temanku yang berisi sebuah pilihan dan disana tertera 

“pilih mana yang lebih baik:
Suami poligami
Suami selingkuh
Suami gay”
Kurang lebih begitu. Dan temanku menjawab lebih baik ditinggalkan. Aku jelas sangat setuju. Jika di dunia ini tidak ada lagi laki-laki selain pilihan yang tertera di atas, maka jelas saya memilih sendiri. Buat apa ngagugulung kanyeri. Masih ada orang tua yang perlu kita bakti. Untuk apa berjuang demi laki-laki yang tidak mau menghargai perempuan. Tanyalah pada laki-laki itu, apakah diapun akan melakukan hal yang sama jika hal serupa terjadi pada ibunya?
So scary


Jadi buat temen-temen khususnya perempuan coba tanya pada diri sendiri, apakah sepenting itu laki-laki hingga sanggup mengorbankan segalanya tanpa mempedulikan keinginanmu, kebahagiaanmu, dan kebebasanmu? Apakah setinggi itukah derajat laki-laki sehingga perempuan sangat boleh dihinakan? Dimana harga diri perempuan? 

Rabu, 29 Mei 2019

Tentang Perempuan

Tulisan ini adalah sebuah kisah ku bersama pengalaman orang lain yang membuat ku belajar tanpa harus mengalaminya.

Dulu aku punya teman, bukan teman dekat lebih tepatnya hanya teman dari temanku. Dulu aku bukan tipe orang yang setia dalam berteman atau bisa dibilang aku tak pernah punya teman dekat. Mengapa? Aku juga tidak tau. Aku lebih suka berteman sekedarnya, tak terlalu sakit mungkin jika aku dikecewakan teman. Tapi teman sepeti itu mungkin hanya bisa sekedar bertegur sapa tanpa bisa berbagi kisah panjang lebar.

Suatu ketika aku mulai berteman cukup baik dengannya, lebih tepatnya ketika aku tahun terakhir sekolah menengah. Saat itu pula aku mulai memiliki teman yang dapat ku bagi kisah dengannya. Kami sering berkumpul untuk belajar menjelang ujian akhir sekolah.

Setelah mengalami berbagai fase pertemanan aku merasa dia masih baik baik saja selama ini. Tapi anehnya teman lainnya yang lebih dulu dekat dengannya tak berkata begitu. Aku juga tak terlalu mengerti apa maksudnya.

Hingga aku pun mengerti apa maksud mereka. 
Semasa sekolah menengah aneh rasanya bila tak pernah menyukai seorang lawan jenis, begitu pula dengan ku. Aku bukan orang yang biasa diam jika sesuatu terjadi padaku. Aku bercerita tentang hal itu pada temanku ini, dan beberapa hari kemudian orang yang aku suka lebih dekat dengan temanku. Aku merasa terlalu kekanak-kanakan bila mengingat masa itu, mengingat aku adalah anggota rohis dan malah mempermasalahkan hal yang tak pantas sebagai sebagai anggota rohis.

Masalah menjadi. Perpecahan tak dapat dihindarkan. Aku menjauh dari temanku itu. Patutlah orang lain berkata demikian. Sekarang aku tau maksudnya.
Aku tak mau tau kelanjutannya. Mungkin dia bahagia mungkin juga tidak. Dan kabar terakhir yang aku dengar adalah mereka putus. Bahagia tidak, sedih pun tidak. Aku merasa biasa saja.

Kami berteman kembali karena mungkin lingkungan yang memaksa atau mungkin memang takdir nya begitu.

Aku tak pernah mau bercerita masalah lawan jenis padanya lagi.

Saat itu entah sedang gencar atau memang dia tulus kalakuan nya, dia berhijrah. Sampai sekarang dia masih beristiqomah mengenakan kerudung syar'i nya. Alhamdulillah ucapku, dia sangat tegar menghadapi berbagai cobaan ketika dia berhijrah.

Sampai di awal masa perkuliahan aku mendengar berbagai ceritanya bersama banyak lawan jenis yang pernah memberinya harapan. Aku mengiyakan saja. Semenjak dia hijrah mungkin dia memang tak menganggap sebuah hubungan sebagai permainan lagi. Dia selalu menganggap serius semuanya sampai mungkin sakit hatinya pun juga serius. Beberapa laki laki pernah mengecewakan nya. Aku kira hal itu harusnya tak terjadi padanya, mengingat dia adalah wanita yang sangat baik dalam berpakaian dan berhubungan. Tapi ternyata kenyataan nya tak seperti itu.

Baru baru ini dia dekat dengan seorang laki laki dan mungkin berharap berjodoh, aku tak tau takdir akan berkata seperti apa tapi dia tetap menganggap nya serius meski sebenarnya aku telah tau bahwa laki laki itu mempunyai wanita lain. Tapi aku tak berani mengungkapkan nya karena aku takut mengecewakan, sampai akhirnya dia mengetahui itu semua sendirinya. Dia bercerita padaku, mengungkapkan kekecewaannya tapi disisi lain ternyata dia masih berharap. Aku tak tau apa yang membuatnya berharap sekuat itu. Aku tak akan pernah bertahan jika aku jadi dia.

Aku kira keseriusan hubungan mereka hanya sebatas hubungan jarak jauh. Tapi ternyata saling mengunjungi rumah adalah hal yang biasa bagi mereka, bahkan kagetnya aku ketika melihat foto mereka saling memeluk. Apa yang ada di pikiranmu sekarang? Mengapa bisa seperti itu?

Aku tak menyalahkan orangnya, itu mungkin bukan salahnya, tapi aku mencoba belajar dari hal yang terjadi padanya. Ternyata benar semua manusia tidak pernah sempurna. Aku selalu iri dengan caranya memakai pakaian. Tapi ternyata pakaian tak menjamin akhlak. Bisa jadi aku lebih beruntung karena menjomblo dan terhindar dari segala hal buruk mengenai laki laki. Tapi mungkin pakaian dan mulutku belum bisa ku jaga dengan baik. Bahkan jari ku ini masih belum bisa terkendali ketika mengomentari orang yang berlaku salah. Aku memang salah, tapi mungkin tak ada salahnya untuk belajar dari kesalahan orang lain.

Perempuan tetaplah perempuan, selalu ingin disayang dan diperlakukan lemah lembut. Bukan tidak boleh, namun jika belum waktunya jangan dipaksakan. Suatu saat pasti akan tiba waktunya. Masalah hati memang akan selalu datang, itu adalah ujian bagaimana kita bisa menguatkan hati untuk tidak terjerumus ke dalam jebakan syetan.

Bukan berarti aku sudah baik, terkadang aku juga masih berlebihan ketika berhubungan dengan teman laki laki.

Mari lihat ke dalam diri, apa yang lebih baik dilakukan untuk melindungi diri kita. Karena ternyata orang tak pernah kita sangka ketika ia sudah tak dapat mengendalikan nafsunya, maka terjerumus lah ia. Tak memandang syar'i tidak pakaian nya, tak memandang seberapa tinggi sekolahnya, tak memandang seberapa banyak ilmunya. Nafsu adalah pengendalian hati dan jiwa.

Jadilah perempuan yang menjaga hatinya, yang menjaga jiwa dan pikiran nya dari hal hal kotor. Sehingga kelak menjadi segelas air putih yang meredakan dahaga setelah berpuasa.

Selasa, 28 Mei 2019

Sesuatu dalam hari ku

Have you ever feel like "this is the bad day i ever had"

Ya,, biasanya saat itu adalah ketika hal buruk terjadi dalam hidup kita. Entah itu hanya menyangkut pribadi atau orang banyak.
Aku yakin banyak diantara kita pernah merasa takut untuk melewati sebuah hari, dan rasanya ingin sekali hari itu tak pernah ada dan tiba-tiba kita sudah ada di hari berikutnya. Mungkin semacam tak ingin melakukan hal yang harusnya dilakukan hari itu. 



Hal itu terjadi berkali-kali padaku. Hari ini, kemari, minggu lalu, bulan lalu, bahkan tahun lalu aku selalu merasakan hal yang sama. 

Aku selalu bilang kalo aku bakal ga bisa lewatkan hari itu karena aku terlalu takut, kemudian aku malah membayangkan berbagai hal yang sekiranya bisa ku lakukan untuk menghindari hari itu. Dan sampai sekarang aku masih melakukannya. Aku masih sering berhayal dan membayangkan semua kemungkinan yang bisa aku lakukan agar aku terhindar dari masalah. 
Itu jelek, itu amat jelek. Ya.. itu tak akan pernah membuatmu dewasa, sampai kapanpun. 



Aku kira hal ini malah akan membuat ku terjebak masalah yang lebih besar. Aku bahkan tetap melakukannya meskipun aku tau resiko nya. Disanalah ego ku berbicara. Ia tak mau diam saja dengan keharusan. Ia lebih memilih menjaga diri dalam persembunyian.

Ini masalah besar ternyata.



Tapi dari semua hal di atas, pernah ga satu hari saja dalam hidup tidak bisa dilewati atau bahkan tidak terlewati?

Yes of course. Jawabannya tidak ada.
Ternyata selama kita hidup sampai saat ini, kita telah bisa melewati banyak hari yang menurut kita itu adalah hari terburuk dalam hidup kita. 
Kamu tau kenapa itu bisa terjadi?
Satu jawaban pasti, Allah tidak akan pernah memberi ujian kepada hambanya kecuali ia mampu.



Ya.. sebenarnya kita selalu mampu melewati setiap hari walaupun itu buruk menurut kita karena Allah yang mengizinkan kita untuk melewatinya.

Ketika percaya bahwa Allah akan selalu memberi kejutan indah kepada hambaNya, disitulah kepercayaan diri muncul dan membuat kita percaya bahwa diri kita selalu mampu melewati hari hari dalam hidup kita, meskipun itu buruk menurut kita tapi Allah selalu tau yang terbaik. Pertolongan Allah akan selalu datang saat kita meminta dan memohon kepadaNya.



Hidup itu ternyata simpel, just do what Allah command to you, and don't do what Allah porbide to you.

And ones again, you just yourself.



Thank you for reading, semoga bermanfaat.

See you in my next blog.

Being an admirer is weird

Pernahkah tepikir sebenarnya apa sih yang harus dilakukan saat menyadari kalo kita sedang menyukai seseorang? apa aturannya? apa yang boleh ...