Selasa, 06 Agustus 2019

Let's open your mind, Girls

Akhir-akhir ini berapa informasi yang masuk ke kepalaku bergaris besar mengenai derajat seorang perempuan. Apa yang terlintas di benakmu ketika berbicara tentang derajat perempuan?


Beberapa hari yang lalu aku sempat menonton sebuah vlog yang berisikan opini mengenai sikap seorang perempuan. Entah karena pembicaranya seorang perempuan atau memang begitu adanya, tapi aku juga merasakan hal yang sama sebagai seorang perempuan. Dalam vlog tersebut pembicara mengulas mengenai perlakuan lingkungan kepada perempuan. Dalam kasusnya si pembicara membicarakan tentang ejekan-ejekan yang sering kali dilontarkan oleh laki-laki kepada perempuan. Salah satunya adalah menyuruh perempuan untuk tersenyum seperti “neng senyum dong”,”neng cantik jangan judes aja dong”. Semua ujaran itu seakan suruhan kepada perempuan untuk mematuhi mereka dan memenuhi kepuasan laki laki. Apakah itu bukan salah satu pelecehan perempuan? Sebagai seorang perempuan tentu aku sendiri pun merasa terganggu dan sangat tidak nyaman dengan perlakuan tersebut. 



Kemudian ada pihak lain yang merasa tersinggung dan menyalahkan perempuan dengan alasan “laki-laki juga tidak akan bersikap begitu jika si perempuan mau menutup auratnya” itu memang benar bahwa perempuan harus menutup aurat, tetapi disini mereka menyalahkan perempuan seakan semua kesalahan ada dalam tanggungan perempuan dan perempuanlah yang harus menjaga agar pandangan laki-laki aman damai sentosa. Helloooowwww kenapa bukan mata laki-lakinya aja yang dijaga, kenapa bukan laki-lakinya aja yang bersikap sopan, kenapa bukan laki-laki aja yang normati perempuan. 



Semuanya serasa kita yang harus bertanggung jawab atas setiap perilaku laki-laki kepada kita. I know ga semua laki-laki seperti itu, bun in reality menemukan laki-laki macam itu tidaklah susah.

Apakah masih mikir kalo itu literally salah perempuan? Ternyata ungkapan perempuan selalu benar itu sangat salah. Perempuan selalu serba salah. Menutup aurat dengan rapat lantas memicu cibiran apalagi di lingkungan kita. 


Dikatalah so alim, dan setiap melakukan kesalahan sekecil apapun tak akan pernah lepas dari pandangan orang-orang disekitar. Lah.. jadi kesitu ya



Minggu lalu aku juga sempat menonton sebuh film dari korea yang menceritakan kehidupan seorang polisi wanita yang dalam pekerjaannya sering kali mendapat olokan dari kaum laki-laki. Dalam film tersebut sang polisi wanita itu menghadapi sebuah kasusmengenaipelecehan seksual terhadap perempuan khususnya remaja hingga menyebabkan tragedy bunuh diri di berbagai tempat. Dari yang aku amati, film ini mengambarkan bahwa tidak adanya rasa hormat kaum laki-laki terhadap perempuan. Disini perempuan berperan menjadi boneka yang digunakan sebagai alat pemuas nafsu laki-laki.



Dari vlog dan film yang sudah dipaparkan, terlintas dipikiranku bahwa saat ini sangat gencar sekali tagline “Nikah Muda”. Tak bermaksud menghina, merendahkan atau bahakan menyalahkan. Tagline tersebut harusnya ditambahkan kata “Bila Sanggup”. Karena pada kenyataanya banyak remaja yang memilih untuk menikah muda dan menyandang status duda/janda tak lama dari tanggal pernikahannya. Saat ini kegencaran nikah muda telah menggambarkan kepada kaum remaja seolah menikahadalah tujuan utama dan jalan akhir dari setiap masalah. Terlebih pada perempuan. “Kulah mah capek, mending nikah aja”, “udah ga sanggup bikin skripsi, mending nikah”. Aku mau tanya, menurut kamu dimana mendingnya?

Aku pernah menjumpai beberapa anak SMA yang setiap kali diajak mengobrol perkataannya selalu merujuk pada hubungan dengan laki-laki dan menikah. Mereka tidak pernah bilang masalah pacaran karena mereka sungguh tau bahwa pacaran adalah hal yang sangat dilarang oleh Allah SWT. Tapi mereka membicarakan menikah. Taukah kamu apa penyebabnya? Itu dia, musim nikah muda. Walaupun itu bukan hal yang haram untuk diperbincangkan di kalangan anak SMA atau bahkan anak-anak, tapi pantaskah? Sedangkan mereka masih harus focus dengan ujian sekolah mereka yang menggunung? Mereka membicarakannya seakan menikah hanya tinggal akad saja dan sah dan hidup bahagia. Aku tidak so menghindar, aku juga pernah berpikir begitu sebelum akhirnya sadar bahwa laki-laki itu bukan segalanya. Melihat perempuan menangis karena laki-laki itu adalah hal yang sangat mengenaskan. Kayanya ga ada lagi gitu yang bisa buat hidup bahagia selain mereka. Oh my God. Aku ga ngomongin orang yang sudah sah. 


Suatu hari ada sebuah story wa milik temanku yang berisi sebuah pilihan dan disana tertera 

“pilih mana yang lebih baik:
Suami poligami
Suami selingkuh
Suami gay”
Kurang lebih begitu. Dan temanku menjawab lebih baik ditinggalkan. Aku jelas sangat setuju. Jika di dunia ini tidak ada lagi laki-laki selain pilihan yang tertera di atas, maka jelas saya memilih sendiri. Buat apa ngagugulung kanyeri. Masih ada orang tua yang perlu kita bakti. Untuk apa berjuang demi laki-laki yang tidak mau menghargai perempuan. Tanyalah pada laki-laki itu, apakah diapun akan melakukan hal yang sama jika hal serupa terjadi pada ibunya?
So scary


Jadi buat temen-temen khususnya perempuan coba tanya pada diri sendiri, apakah sepenting itu laki-laki hingga sanggup mengorbankan segalanya tanpa mempedulikan keinginanmu, kebahagiaanmu, dan kebebasanmu? Apakah setinggi itukah derajat laki-laki sehingga perempuan sangat boleh dihinakan? Dimana harga diri perempuan? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Being an admirer is weird

Pernahkah tepikir sebenarnya apa sih yang harus dilakukan saat menyadari kalo kita sedang menyukai seseorang? apa aturannya? apa yang boleh ...