The tittle sound so free, this life is yours, do whatever you want?
Tapi banyak orang melupakan apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan. Itu tidak benar benar salah untuk mencoba banyak hal, yang menjadi masalah adalah bagaimana dan dimana sebuah batasan akan diletakkan. Banyak orang lupa untuk tetap menjaga diri dalam sebuah kebebasan. Namun hal sebaliknya juga tidak luput dari manusia. Beberapa dari mereka mengkhawatirkan bagaimana semua kebebasan itu bisa tetap menjaga mereka dalam aman, bagaimana jika begini, begitu dan banyak konsekuensi lainnya yang harus dihadapi. But that's life. Kita tidak akan pernah tau sebelum benar benar melakukanya. And it's happen to me.
Bagaimana akhirnya aku menyadari hal ini adalah sebuah keputusan besar bagiku pada saat itu. Sebuah pengalaman yang begitu bermakna. Mungkin bagi sebagian orang ini hanyalah kejadian biasa atau mungkin hanya terlihat sebagai langkah kecil seorang bayi. But it's so big to me, melihat bagaimana akhirnya aku memutuskan untuk menyelesaikan studi jenjang S1.
Betapa mindernya diri ini karena butuh 6 tahun bagiku untuk akhirnya melepas hubungan sebagai alumni dengan kampus tercinta. Malu untuk mengumumkan pada dunia bahwa aku sudah berhasil, karena rasanya keberhasilan ini tampak kecil di mata orang lain. Namun ternyata itu semua hanya pikiran ku. Kenyataan bahwa mereka tetap menyayangi ku dan bangga padaku adalah hal yang tak pernah terlintas di pikiran ku sebelumnya.
Jika melihat kebelakang, di dua tahun terakhir aku cukup banyak bertanya tanya tentang diriku. Kemana semua ini akan berjalan, bagaimana cara menjalani hidup, apa mau ku, apa yang sebenarnya akan dan harus terjadi, semua pertanyaan itu tak pernah sehari pun hilang dari kepalaku. Bahkan bukan hanya pertanyaan yang muncul, terkadang cacian pun ikut mengiringi. Bertanya tanya mengapa aku begitu lambat, bodoh dan tak bisa diandalkan. Waktu terus berjalan. Dengan berbagai usaha, perlahan aku menghilangkan kata kata menyakitkan itu dari kepalaku, aku mulai menyadari betapa berharganya diriku. Aku berpikir bahwa kalaupun di dunia ini tidak ada yang mau menyukai dan menyayangi ku, setidaknya aku harus melakukannya pada diri sendiri. Karena hanya aku yang merasakan apa yang terjadi pada diriku. Dan perasaan ku mulai membaik. Hingga aku memutuskan untuk melangkahkan kaki lebih jauh, berharap dunia ini mau berpihak padaku.
Semua bayangan ketakutan itu hilang seketika ketika akhirnya tangisan ku tumpah di ruangan sidang. meski belum dinyatakan lulus, aku sudah sangat bersyukur karena bisa mengakhiri hari itu dengan baik. Aku sangat bersyukur karena diizinkan mengalami hari yang selalu terasa mustahil sebelumnya. Keyakinan keyakinan semu itu selalu perlahan ku bangun dalam diri hingga semua itu menjadi kenyataan. Terdengar sangat cringe, tapi hai itu sangat cukup untuk membuatku terbang tinggi dan duduk selama sepuluh menit di atas awan.
Pada akhirnya aku percaya bahwa mimpi mimpi yang dirasa mustahil itu mungkin akan terjadi suatu hari nanti. Walau tak tau kapan pastinya, tapi selama diperjuangkan, semua itu tidak akan pernah menjadi sia sia. Kita tidak pernah tau akhir seperti apa yang sedang menunggu kita di ujung hari. Yang kita tau hanyalah semua akan baik baik saja.
Hari ini aku kemudian memberanikan diri untuk kembali bermimpi, kembali membangun sebuah istana di awan sana. Entah kapan akan aku kunjungi, tapi aku percaya akan berada di sana suatu hari nanti.
So, my last word is lakukanlah apapun itu yang membuat dirimu senang dengan kehidupan ini. Beranikan lah membayangkan mimpi mimpi walau usia seperempat abad sudah di depan mata. Jangan buat dirimu menyesal dengan kesempatan yang tidak kau ambil hari ini.