Payung bumi semakin tebal dan semakin pekat. Wajahnya
menyiratkan sebuah kesedihan tak terbendung. Air kemudia berjatuhan tanda sang
langit bersedih. Apakah langit hanya bias bersedih saat hujan turun? Tentu saja
tidak. Mereka tengah merasakan haru yang tak dapat terbendung lagi. Air hujan
kemudian turun ke bumi dan lantas membuat mahluk bumi merasakan haru yang
serupa dengan langit.
Sore itu hujan deras mengguyur bumi. Begitu pula dengan
diriku menangis tersedu seiring dengan pesan balasan yang kau kirim padaku.
Disana tertulis kata maaf di awal kalimat yang dilanjutkan dengan deretan kata
manis nan indah. Mungkin maksudnya adalah agar aku tak terlalu sakit hati
dengan jawabanmu, namun nyatanya tidak. Air mata tetap mengalir menandai sebuas
rasa perih yang mendalam atas detik itu.
Perkenalkan dunia, aku Anandini. Dunia ini telah akrab
memanggilku nadin. Tak ada yang istimewa dari hidupku. Hanya manusia biasa
dengan jutaan kekurangan dalam dirinya meski begitu, aku tetap ingin mencicipi
rasa bahagia di dunia ini. Bukankah itu adalah hak ku sebagai seorang anggota
mahluk dunia? Dan bagiku saat ini kebahagiaan adalah menemukan seseorang yang
mau menemaniku, menerima keluh kesahku, dan meluangkan waktu untuk mendengar
ceritaku. Saling bertanya kabar adalah hal yang menurut pikiranku, sangat bisa
membuat hidupku yang sederhana ini
terasa indah.
Demi kebahagiaan itu, aku merelakan waktu ku untuk menuju
saat itu. Aku menunggu dan tak ada yang datang. Kemudian aku mencari namun tak
ada yang sehati. Lantas ku hentikan perjalanan. Menghentikan perjalanan adalah
sebuah keputusan besar yang telah aku ambil. Aku telah lelah dengan semua
ketidakpastian dunia. Namun begitu, aku pun berpikir, bukankah ketika aku
menghentikan langkahku maka sudah sepatutnya aku pun mengakhiri hidupku? Karena
jika tidak, maka aku hanya gelandang tak berguna yang hanya memenuhi volume
bumi. Aku ada namun tak ada. Maka pikiran itu kemudian membuat aku ingin segera
mengakhiri kehidupanku yang sama sekali tak indah. Telah ku siapkan setoples
obat untuk menghilangkan nyawaku, sempat aku memegang pisau, namu aku tak ingin
menumpahkan darah. Lebih baik aku akhiri semuanya dengan tapi dan bersih.
Sambil menghitung jumlah tablet, aku mendengar suara adzan
magrib telah berkumandang. Aku hentikan hitunganku, lalu menjawab adzan dan
mangakhirinya dengan doa. Selepas mengusap wajahku, aku kemudian berpikir,
betapa pendek pikirku untuk mengakhiri hidup, padahal tuhanku masih mengizinkan
aku untuk bersujut seraya menyebut namanya. Air mata yang tak tertahan kemudian
mengalir begitu saja. Istigfar terucap dari bibiru. Ya Allah maafkan aku yang
sempat tak memikirkanmu. Maafkan aku yang hanya haus akan dunia dan kecewa
dibuatnya. Maafkan aku yang bahkan tak pernah menyempatkan bibir ini mengucap
namamu.
Selepas solat, aku memanjatkan doa agar aku dapat menikah. Itu
keinginanku selama ini. Aku bahkan mengejar dunia hanya untuk ini. Namun aku selalu
kecewa. Kali ini aku tak ingin kecewa lagi. Aku terus memohon agar aku dapat
menikah. Seolah satu tujuan hidupku hanya untuk menikah.
Hari demi hari masih ku jalani, kulakukan berbagai ihtiar
untuk bertemu dengan calon pendamping ku. Hingga suatu hari aku sampai di
hadapan ka’bah. Aku memanjatkan doaku yang hingga saat itu belum juga terkabul.
Tanpa menyadari bahwa di hadapanku tengah berdiri sesosok laki laki yang dulu
sempat berucap maaf padaku. Dan kali ini ia mengucapkan hal yang sama. “maaf aku
telah meninggalkanmu, kini aku sudah siap. Mari kita lanjutkan apa yang telah
tertunda” air mata berderai, syukur tak henti ku ucap. Isyarat aku
menyetujuinya. Tanpa berlama lama akad terucap, cincin terpasang, dan bibirnya
telah berada di kening ku. Aku kemudian menangis untuk kesekian kalinya. Setelah
penantian yang sangat lama ini, kemudian Allah jawab melalui orang yang sama,
yang sedari dulu telah ku tunggu.
Sepulang akad, kami memasuki kamar hotel yang sama. Aku kemudian
mandi dan mengganti pakaianku, begitu pun dengan dirinya. Kami sama sama
menaiki ranjang. Rasa syukur tak pernah henti aku ucap. Betapa tidak, kini aku
telah bersama ornag yang sangat aku dambakan. Dia kemudian mendekapu dalam
pelukan hangatnya. Selimut menutup tubuh kami. Belaian lembut tangannya telah
menidurkanku. Sungguh indah, sungguh nyenyak, hingga aku tak inin terbangun
lagi di keesokan harinya. Dan hari hari berikutnya. Terimakasih suamiku, telah
menemaniku memenuhi keinginanku. Dan kini aku telah bahagia. Aku percaya kau
pun akan bahagia, karena kau adalah orang yang sangat baik. Aku mencintaimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar