Minggu, 12 April 2020

Kebahagiaan


Payung bumi semakin tebal dan semakin pekat. Wajahnya menyiratkan sebuah kesedihan tak terbendung. Air kemudia berjatuhan tanda sang langit bersedih. Apakah langit hanya bias bersedih saat hujan turun? Tentu saja tidak. Mereka tengah merasakan haru yang tak dapat terbendung lagi. Air hujan kemudian turun ke bumi dan lantas membuat mahluk bumi merasakan haru yang serupa dengan langit.

Sore itu hujan deras mengguyur bumi. Begitu pula dengan diriku menangis tersedu seiring dengan pesan balasan yang kau kirim padaku. Disana tertulis kata maaf di awal kalimat yang dilanjutkan dengan deretan kata manis nan indah. Mungkin maksudnya adalah agar aku tak terlalu sakit hati dengan jawabanmu, namun nyatanya tidak. Air mata tetap mengalir menandai sebuas rasa perih yang mendalam atas detik itu.

Perkenalkan dunia, aku Anandini. Dunia ini telah akrab memanggilku nadin. Tak ada yang istimewa dari hidupku. Hanya manusia biasa dengan jutaan kekurangan dalam dirinya meski begitu, aku tetap ingin mencicipi rasa bahagia di dunia ini. Bukankah itu adalah hak ku sebagai seorang anggota mahluk dunia? Dan bagiku saat ini kebahagiaan adalah menemukan seseorang yang mau menemaniku, menerima keluh kesahku, dan meluangkan waktu untuk mendengar ceritaku. Saling bertanya kabar adalah hal yang menurut pikiranku, sangat bisa membuat hidupku yang  sederhana ini terasa indah.

Demi kebahagiaan itu, aku merelakan waktu ku untuk menuju saat itu. Aku menunggu dan tak ada yang datang. Kemudian aku mencari namun tak ada yang sehati. Lantas ku hentikan perjalanan. Menghentikan perjalanan adalah sebuah keputusan besar yang telah aku ambil. Aku telah lelah dengan semua ketidakpastian dunia. Namun begitu, aku pun berpikir, bukankah ketika aku menghentikan langkahku maka sudah sepatutnya aku pun mengakhiri hidupku? Karena jika tidak, maka aku hanya gelandang tak berguna yang hanya memenuhi volume bumi. Aku ada namun tak ada. Maka pikiran itu kemudian membuat aku ingin segera mengakhiri kehidupanku yang sama sekali tak indah. Telah ku siapkan setoples obat untuk menghilangkan nyawaku, sempat aku memegang pisau, namu aku tak ingin menumpahkan darah. Lebih baik aku akhiri semuanya dengan tapi dan bersih.

Sambil menghitung jumlah tablet, aku mendengar suara adzan magrib telah berkumandang. Aku hentikan hitunganku, lalu menjawab adzan dan mangakhirinya dengan doa. Selepas mengusap wajahku, aku kemudian berpikir, betapa pendek pikirku untuk mengakhiri hidup, padahal tuhanku masih mengizinkan aku untuk bersujut seraya menyebut namanya. Air mata yang tak tertahan kemudian mengalir begitu saja. Istigfar terucap dari bibiru. Ya Allah maafkan aku yang sempat tak memikirkanmu. Maafkan aku yang hanya haus akan dunia dan kecewa dibuatnya. Maafkan aku yang bahkan tak pernah menyempatkan bibir ini mengucap namamu.

Selepas solat, aku memanjatkan doa agar aku dapat menikah. Itu keinginanku selama ini. Aku bahkan mengejar dunia hanya untuk ini. Namun aku selalu kecewa. Kali ini aku tak ingin kecewa lagi. Aku terus memohon agar aku dapat menikah. Seolah satu tujuan hidupku hanya untuk menikah.
Hari demi hari masih ku jalani, kulakukan berbagai ihtiar untuk bertemu dengan calon pendamping ku. Hingga suatu hari aku sampai di hadapan ka’bah. Aku memanjatkan doaku yang hingga saat itu belum juga terkabul. Tanpa menyadari bahwa di hadapanku tengah berdiri sesosok laki laki yang dulu sempat berucap maaf padaku. Dan kali ini ia mengucapkan hal yang sama. “maaf aku telah meninggalkanmu, kini aku sudah siap. Mari kita lanjutkan apa yang telah tertunda” air mata berderai, syukur tak henti ku ucap. Isyarat aku menyetujuinya. Tanpa berlama lama akad terucap, cincin terpasang, dan bibirnya telah berada di kening ku. Aku kemudian menangis untuk kesekian kalinya. Setelah penantian yang sangat lama ini, kemudian Allah jawab melalui orang yang sama, yang sedari dulu telah ku tunggu.

Sepulang akad, kami memasuki kamar hotel yang sama. Aku kemudian mandi dan mengganti pakaianku, begitu pun dengan dirinya. Kami sama sama menaiki ranjang. Rasa syukur tak pernah henti aku ucap. Betapa tidak, kini aku telah bersama ornag yang sangat aku dambakan. Dia kemudian mendekapu dalam pelukan hangatnya. Selimut menutup tubuh kami. Belaian lembut tangannya telah menidurkanku. Sungguh indah, sungguh nyenyak, hingga aku tak inin terbangun lagi di keesokan harinya. Dan hari hari berikutnya. Terimakasih suamiku, telah menemaniku memenuhi keinginanku. Dan kini aku telah bahagia. Aku percaya kau pun akan bahagia, karena kau adalah orang yang sangat baik. Aku mencintaimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Being an admirer is weird

Pernahkah tepikir sebenarnya apa sih yang harus dilakukan saat menyadari kalo kita sedang menyukai seseorang? apa aturannya? apa yang boleh ...