Minggu, 28 Mei 2023

Keep in Believe


pernahkah kalian ada dalam suatu kondisi dimana kalian ingin memperbaiki diri dan bertaubat dari banyaknya dosa di masa lalu tapi ternyata kemudian kalian menyadari bahwa beberapa aspek dalam lingkungan kalian agak sulit dan canggung untuk diubah. bukan tidak bisa, mungkin bisa saja mereka pun berubah, hanya saja mereka menjadi canggung dengan kebiasaan baru kalian. dan kalian tentunya tidak mau merusak hubungan baik yang telah lama dijalin itu. 

itu bisa jadi memang terjadi demikian, atau itu juga bisa saja hanya masalah di kepalamu. maksudnya? iya, kamu over thinking. tidak selamanya apa yang dipikirkan itu terjadi demikian. karena ada kalanya apa yang kita duga ternyata tidak begitu aslinya.

ini terjadi padaku. ini bukan kali pertama aku belajar kembali mengenal agama lebih banyak. sempat aku lalui hal yang sama dulu ketika smp dan sma. tentu saja karena kurang istiqomah aku selalu belok belok jalur dan menjauh dengan berbagai alasan. salah satu faktor menyebabkan agak sulitnya mempertahankan keistiqomahan adalah lingkungan kita sendiri ternyata. jika lingkungan tidak mendukung, kemungkinan kembali kepada kesesatan itu cukup besar apalagi di awal awal karena keimanan kita mungkin belum terlalu kuat. sehingga banyak orang meyerah di fase ini dan malah kembali bermaksiat.

mempertahankan hubungan baik dan menjalin silaturahmi dengan sesama muslim juga saudara adalah sebuah keharusan dan Rasul pun sangat menganjurkan nya. akan tetapi pada kenyataannya lingkungan tidak selalu seperti apa yang kita harapkan. tak jarang sikap mereka kemudian mengguncang iman kita. dalam kondisi ini tentu saja sabar adalah pilihan terbaik. itu adalah salah satu ujian dari Allah untuk meningkatkan keimanan kita. tapi stigma di masyarakat selalu berpendapat seakan sabar itu ada batasnya. padahal sabar itu tidak pernah berbatas karena Allah yang akan membalasnya. dalam satu kisah diceritakan ketika Rasulullah sedang berjalan bersama Abu Bakar kemudian melewati sebuah jalan dengan masyarakat yang memaki mereka. sikap Abu Bakar biasa saja dan tidak merespon pada awalnya, namun beberapa lama kemudian rosul pun berbalik arah dan menjauhi Abu Bakar. Abu Bakar bertanya tanya kemudian menyusul dan bertanya pada rosul mengapa ia meninggalkannya. kemudian rasulullah menjawab bahwa diawal mereka mendapat cacian dari warga sana banyak malaikat memuji dan mendoakanmu karena kesabaran, namun setelah beberapa kali mendapat cacian tiba tiba malaikat menjauh dan setan mulai berdatangan mengerubunimu. padahal saat itu Abu Bakar sama sekali tidak menunjukkan respon apapun terhadap cacian warga. dari kisah tersebut kemudian kita belajar bahwa sekecil apapun kemarahan setan akan selalu menyukainya. maka tidak ada batasan bagi sebuah kesabaran, Allah tidak pernah menyebutkan ganjarannya, karena Allah sendiri yang akan membalasnya kelak.

tidak mudak memang untuk bersabar, apalagi menyuruh orang lain bersabar. dalam rangka membentuk lingkungan yang baik, tentu kita akan berperan dalam dakwah. dan itu akan selalu dimulai dari lingkungan terdekat kita. salah satunya adalah teman dan sahabat kita. ini adalah hal sulit karena kita akan berhadapan dengan orang yang biasanya selalu berpendapat sama, satu hati, dan satu pikiran. tapi kini akan menjadi banyak pendapat dan perasaan yang terganggu. apalagi menyinggung keimanan dan ibadah, hal ini menjadi sensitif bagi beberapa orang. walau demikian kita tetap harus berusaha dengan apapun akar lingkungan terdekat kita pun dapat terhindar dari kemunkaran. siapa sih yang ga mau sahabatan samapai jannah? ya kan? maka tugas kita adalah memperjelas sinyal sinyal hidayah kepada oramg terdekat kita. terlepas apapun hasilnya itu adalah urusan dia kepada Allah. tugas kita hanya menunaikan kewajiban untuk mengingatkan.

menyiasati hal ini mulailah untuk tidak berlebihan dalam memberi saran dan mengingatkan teman kita. karena dari pengalaman sendiri aku pun merasakan sangat tidak nyaman ketika kita diceramahi bukan dengan keinginan kita. diingatkan ketika tidak ingin diingatkan. apalagi perempuan, disuruh sabar pas lagi pengen ngeluh dan capek banget, dah lah mental semua omongan kalian, percuma saja.

layak nya ketika menanggapi curhatan, kita juga harus masuk dalam cerita mereka. dalam sudut pandang mereka, mecoba merasakan apa yang sedang mereka rasakan. itu sangat sulit tentu, sehingga langkah pertama adalah membiarkan mereka megungkapkan apa yang ingin mereka ceritakan, tanggapi dengan baik dan bagi pula tanggapan kalian. setelah mereka selesai menyampaikan dan kemudian meminta saran, disanalah kesempatan kalian untuk menjalankan misi. awalnya agak sulit, apalagi kalo udah bawa dalil dan lain lain. maka mulai dengan memberi contih atau gambaran logika sehingga mereka mau untuk kemudian menerima pemikiran kita. setelah kiranya dia mencerna barulah disana kita menyebutkan kuasa kuasa Allah dan melihat kembali pengalaman dan cerit adi zaman rosul ketika menghadapi masalah serupa. dengan demikian jalan kita untuk berdakwah akan terbuka semakin luas. apalagi kalau dibarengi dengan mendoakan mereka agar dimudahkan dalam menjemput hidayah nya, sehingga kita dapat mencapai tujuan membentuk lingkungan yang baik, menjaga serta meningkatkan keimanan kita.

menyatukan dua kepala memang akan sangat sulit. tapi semua akan menjadi mudah ketika sudah didasarkan pada yang satu, ridho Allah.

Wallohualam ... Baarakallahuliwalakum 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Being an admirer is weird

Pernahkah tepikir sebenarnya apa sih yang harus dilakukan saat menyadari kalo kita sedang menyukai seseorang? apa aturannya? apa yang boleh ...