Awalnya, aku berencana menulis ini di buku jurnal harian ku, tapi setelah kupikir sepertinya lebih layak aku tulis disini. Tidak hentinya pelajaran-pelajaran hidup datang menghampiri kita, walaupun hal tersebut datang dari kasus, permasalahan, dan pengalaman orang lain.
Jadi beberapa waktu lalu (mungkin belum genap 24 jam) aku sempat membaca dua buah tulisan yang menimbulkan pemikiran aku tentang hal ini. yang pertama datang dari Arhan yang sempat ramai diperbincangkan terkait kasus istrinya yang dikabarkan berselingkuh dengan pacar dari Rachel Venya atau Salim. Dalam kalimat tersebut Arhan menyebutkan bahwa putusnya Rachel dengan pacarnya itu bukan urusan Arhan dan istrinya. Dan kalimat kedua adalah sebuah nasihat pernikahan dari KUA yang diberikan kepada sepasang calon mempelai. Namun dalam hal itu ternyata hanya mempelai wanita saja yang hadir dikarenakan urusan mempelai pria yang tidak dapat ditinggalkan. Dan pada saat itu nasihat lebih terfokus pada mempelai wanita, dengan kalimat yang paling ku ingat adalah ketika penasihat berkata bahwa menikah adalah "urusan mba dan Allah, juga urusan suami mba dengan Allah, karena Allah lah yang memegang hati pasangan kalian, sehingga kewajiban mba hanyalah kepada Allah dan yang menjadi urusan mba adalah menjalankan perintah Allah. Jika suatu hari nanti (naudzubillah) ternyata suami mba memilih untuk berselingkuh, maka sesungguhnya itu adalah urusan dia dengan Tuhannya. Karena mba sebagai istri tidak dibebankan atas hal tersebut".
Dari dua kalimat tersebut aku menyoroti dua hal tentang memaafkan dan meninggalkan. Semula ketika berita ini mulai ramai menjadi pembicaraan, sudut pandang ku langsung mengarah pada Arhan. Bagaimana perasaannya terkait apa yang dilakukan istrinya itu mungkin bukan hanya menyakiti hari nya sebagai suami, tapi juga sebagai seorang pria yang menjadikannya dipandang gagal dalam mendidik istrinya. Walaupun perselingkuhan bukan hal yang dibenarkan, tapi dalam kasus Arhan ebagai suami yang mendidik istri, usia pernikahan mereka belum lama, usia mereka pun belum bisa dianggap benar dewasa. Maka jalan yang Arhan ambil untuk memaafkan istrinya adalah hal yang benar. Mungkin kasus tersebut bisa dijadikan pembelajaran bagi Arhan dan istrinya untuk kembali memperkuat ikatan rumah tangga mereka. Bertumbuh dan menjadi pribadi yang lebih baik adalah langkah yang patut diusahakan. Apapun hasil yang kelak akan didapat, yang penting sudah diusahakan.
Lain hal nya dengan Rachel yang dengan konteks berpacaran ini mengharuskan dirinya untuk putus dari pacarnya itu. Bukan berarti sudah tidak ada rasa, namun jika masih berpacaran saja sudah mampu melakukan hal itu, apa kabar nanti setelah menikah? Dilema besar pasti menimpanya. Bagaimana tidak, dengan masa lalu yang tidak menghadirkan kebahagiaan, dan berharap bisa bahagia dengan orang baru, namun ternyata yang terjadi bukan hal yang diinginkan. Di satu sisi mungkin Rachel mampu memaafkan dengan dalih hubungan dengan pacarnya itu sudah berlangsung lama. Namun dengan kondisi bahwa dia pernah cerai juga dengan kasus selingkuh, sudah pasti dia tidak akan pernah toleran terhadap hal itu. Selain itu, mana mungkin seorang perempuan mau mempercayakan dirinya pada orang yang tidak mampu menjaga hubungannya dengan baik, karena itu berarti laki laki tersebut tidak mampu membimbing nya untuk menjadi istri yang baik. Maka melupakan adalah jalan terbaik.
Dari dua sudut pandang tadi terkait dengan menikah adalah urusan hamba dengan Tuhannya. Perasaan mereka yang menjadi korban sudah pasti tidak baik, namun semua itu kembali pada situasi dan kebutuhannya masing masing. Mengapa satu kejadian memerlukan penanganan yang berbeda, karena situasi dan kondisi mereka berbeda. dan semua itu adalah tentang hati dan logika.
Tidak ada manusia sempurna di bumi ini. Wallahualam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar